Riset DBS Private Bank Ungkap Kesenjangan Kesiapan Risiko dalam Alih Kekayaan Keluarga Asia
Riset terbaru DBS Private Bank menunjukkan bahwa di tengah potensi transfer kekayaan senilai US$5,8 triliun di Asia, keluarga kaya menghadapi "kesenjangan kesiapan risiko" yang dipicu oleh keengganan pendiri melepaskan kendali dan minimnya keterlibatan generasi penerus.
____________
KEY FACTS:
■ Kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan mencatat transfer kekayaan keluarga sebesar US$5,8 triliun kepada ahli waris.
■ Riset DBS Private Bank menyoroti adanya risk-readiness gap atau kesenjangan kesiapan risiko dalam perencanaan suksesi.
■ Hanya 4% keluarga yang berencana melakukan transfer kekayaan bermakna dalam tiga tahun ke depan. Sebanyak 43% generasi penerus tidak dilibatkan sama sekali dalam perencanaan kekayaan keluarga.
■ Lebih dari 85% family office tidak memiliki rencana kesinambungan bisnis (business continuity plan) yang jelas.
_____________
Kalangan keluarga kaya di kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan akan mengalihkan aset dan kekayaan hingga mencapai US$5,8 triliun kepada para ahli waris mereka. Namun, di balik ambisi besar tersebut, sebuah laporan komprehensif dari DBS Private Bank menemukan adanya "kesenjangan kesiapan risiko" (risk-readiness gap) yang signifikan, yang berpotensi menghambat kelangsungan suksesi bisnis keluarga.
Laporan bertajuk "DBS Asian Family Office Almanac 2026: Assessing the Risk-readiness Gap" itu mengungkapkan bahwa keengganan para pendiri (founders) untuk melepaskan kendali menjadi hambatan utama dalam perencanaan transfer kekayaan.
Dari survei yang melibatkan lebih dari 200 family office di Asia, Eropa, dan Timur Tengah, hanya 4% responden yang memperkirakan terjadinya transfer kekayaan yang berarti dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
Sekitar 33% responden menyebutkan bahwa penundaan tersebut murni disebabkan oleh ketidaksiapan pendiri melepaskan tampuk kekuasaan, sementara 15% lainnya memilih menunggu hingga terjadi peristiwa pemicu (trigger event) seperti kematian, krisis operasional, atau kejatuhan finansial.
Kesenjangan Keterlibatan Generasi Penerus dan Struktur Aset
Riset yang menghimpun data dari survei Januari hingga Mei 2026 serta wawancara kualitatif dengan para pemangku kepentingan utama ini menyoroti tiga prioritas utama keluarga: pewarisan kekayaan ke generasi berikutnya, manajemen risiko holistik, serta adopsi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi. Sayangnya, celah kesiapan terlihat nyata di setiap lini tersebut.
Dalam aspek suksesi, meskipun keluarga merancang rencana untuk lintas generasi, generasi penerus seringkali tidak dilibatkan sejak dini. Sebanyak 43% responden menyatakan bahwa generasi penerus sama sekali tidak terlibat dalam perencanaan kekayaan, dan hanya 1% dari mereka yang memimpin perancangan serta implementasi rencana tersebut.
Dari sisi struktur hukum dan kepemilikan, mayoritas kekayaan masih dikelola secara personal. Sebanyak 54% responden memegang aset kunci atas nama pribadi mereka sendiri, 52% menggunakan perusahaan investasi pribadi, dan hanya 20% yang memanfaatkan trust (perwalian) yang dikelola secara profesional.
Selain itu, manajemen risiko kerap berhenti pada portofolio investasi semata, sementara rencana kelangsungan bisnis (business continuity plan) diabaikan. Lebih dari 85% family office tercatat tidak memiliki rencana kesinambungan bisnis formal atau merasa tidak yakin apakah rencana tersebut benar-benar ada. Risiko internal keluarga juga mengancam: 27% belum mengantisipasi risiko kepemimpinan antar-generasi, 26% mengabaikan risiko tata kelola (governance), dan 23% belum memiliki mitigasi konflik keluarga.
Pentingnya Transformasi Dini
Di bidang teknologi, minat terhadap kecerdasan buatan tergolong tinggi di mana enam dari sepuluh responden memandang adopsi AI sebagai tujuan utama. Kendati demikian, implementasi harian masih tertinggal karena 47% di antaranya belum pernah menggunakan perangkat digital atau AI dalam operasional sehari-hari.
Lee Woon Shiu, DBS Group Head of Wealth Planning, Family Office and Insurance Solutions, menyatakan bahwa perbincangan dengan para klien kerap kali memperlihatkan betapa sulitnya menjembatani niat baik menjadi tindakan nyata. Menurutnya, keraguan tersebut sangat dapat dipahami mengingat penyerahan warisan dan bisnis melibatkan keputusan personal yang mendalam terkait kepemilikan serta kepemimpinan.
"Keluarga yang berada di posisi terbaik untuk melindungi dan mengembangkan kekayaan mereka bukanlah mereka yang memiliki aset terbanyak, melainkan mereka yang mengatasi masalah ini lebih awal, saat mereka masih memiliki waktu dan banyak pilihan," ujar Lee Woon Shiu.
Peta temuan dari riset DBS Private Bank menghadirkan beberapa catatan analitis krusial bagi ekosistem kekayaan swasta. Pertama, keengganan para pendiri dalam melepaskan kontrol tidak hanya membahayakan kelangsungan perusahaan keluarga, tetapi juga berpotensi memicu guncangan likuiditas makro ketika gelombang transfer aset senilai US$5,8 triliun tertahan tanpa struktur hukum yang matang.
Kedua, dominasi kepemilikan aset atas nama pribadi yang mencapai 54% mencerminkan rendahnya adopsi instrumen perlindungan kekayaan profesional seperti trust, sehingga membuat aset lebih rentan terhadap sengketa hukum dan suksesi.
Ketiga, meskipun adopsi kecerdasan buatan (AI) menjadi prioritas, separuh dari pelaku family office belum menyentuh teknologi digital dalam operasional harian, yang menunjukkan adanya hambatan kultural dalam proses modernisasi manajemen kantor keluarga. ■
