Rabu, 28 Okt 2026 DIGI-PRODUCTDigi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-Insights
Breaking
Beranda › Digi-Tech
Digi-Tech

Ekonom Apollo Global Sebut AI Belum Berikan Manfaat Ekonomi di Luar Sektor Teknologi

✍️ Deddy H. Pakpahan 🕒 28 Oct 2026
Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, menyatakan bahwa manfaat ekonomi AI baru dinikmati oleh tujuh raksasa teknologi (Mag 7).
Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, menyatakan bahwa manfaat ekonomi AI baru dinikmati oleh tujuh raksasa teknologi (Mag 7).

Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, mengungkapkan bahwa manfaat ekonomi dari kecerdasan buatan (AI) sejauh ini hanya dinikmati oleh raksasa teknologi, sementara perusahaan di sektor lain belum merasakan kenaikan laba maupun produktivitas.

___________

KEY FACTS:

■ Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, menyatakan AI belum memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan di luar sektor teknologi.
■ Analisis membandingkan kelompok "Mag 7" dengan 493 perusahaan lain dalam indeks S&P 500. Hanya Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Nvidia, Tesla, dan Microsoft yang mencatat kenaikan produktivitas dan laba bersih dari AI.
■ Biaya komputasi dan langganan AI yang tinggi membuat perusahaan mulai memandang pengeluaran tersebut sebagai beban operasional.
■ Goldman Sachs menyebut sebagian besar pekerjaan korporasi tidak memerlukan model AI tingkat lanjut yang mahal.

___________

Raksasa teknologi meraup keuntungan besar dari adopsi kecerdasan buatan (AI), namun bagi perusahaan di sektor lain, manfaat finansial tersebut dinilai belum terlihat. Kepala Ekonom di Apollo Global Management, Torsten Slok, menyatakan secara tegas bahwa di luar industri teknologi, AI belum memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan.

Dalam catatan resminya, Slok membandingkan kinerja keuangan dari tujuh perusahaan teknologi raksasa—yang dikenal sebagai kelompok "Magnificent 7" (Mag 7)—dengan 493 perusahaan lainnya yang tergabung dalam indeks S&P 500.

Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa AI hanya mendatangkan kenaikan pendapatan per karyawan, peningkatan laba bersih, dan pertumbuhan produktivitas bagi ketujuh raksasa teknologi, yaitu Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Nvidia, Tesla, dan Microsoft.

Sebaliknya, pada 493 perusahaan di luar kelompok tersebut, pendapatan per karyawan, laba bersih, dan tingkat produktivitas dilaporkan tidak mengalami perubahan berarti.

"Intinya, kisah keberhasilan AI akan ditentukan oleh 493 perusahaan itu, bukan oleh tujuh raksasa teknologi. Dan sampai saat ini, belum ada bukti bahwa pertumbuhan pendapatan maupun laba meningkat di luar sektor teknologi," tulis Slok dalam publikasinya di laman resmi Apollo.

Sebagai informasi, Apollo Global Management (NYSE: APO) adalah firma manajer investasi alternatif dan pasar privat asal Amerika Serikat yang mengelola private equity, kredit, dan real assets serta melalui Athene bergerak di layanan keuangan dan tabungan pensiun, dengan aset global ratusan miliar dolar dan keterlibatan dalam pembiayaan korporasi besar seperti infrastruktur AI/GPU.

Biaya Operasional Membengkak

Banyak pelaku usaha kini mulai menyadari bahwa penggunaan model AI tingkat lanjut membutuhkan biaya yang sangat besar. Biaya langganan perangkat lunak serta pengeluaran untuk infrastruktur komputasi justru menekan keuntungan perusahaan, alih-alih mendongkrak pendapatan.

Kondisi ini memicu pergeseran pandangan di kalangan dunia usaha. Pengeluaran untuk teknologi AI kini tidak lagi dipandang sebagai investasi pertumbuhan jangka panjang, melainkan sebagai biaya operasional (opex) yang membebani neraca keuangan perusahaan.

Pandangan senada juga diungkapkan oleh Direktur Utama Goldman Sachs, David Solomon. Setelah mengumumkan alokasi dana sebesar setengah miliar dolar untuk AI, Solomon mengakui bahwa sebagian besar operasional perusahaan sebenarnya tidak memerlukan model tingkat tinggi yang mahal, melainkan cukup menggunakan perangkat dasar yang sudah tersedia.

Di sisi lain, kekhawatiran pasar semakin meningkat menyusul laporan bahwa perusahaan AI ternama, Anthropic, menghabiskan dana hingga US$80,7 miliar hanya dalam enam bulan pertama tahun ini sebelum melakukan penawaran saham perdana (IPO). Besarnya bakar modal tersebut menimbulkan ketidakpastian mengenai kapan investasi raksasa ini akan mendatangkan pengembalian modal (return on investment) bagi para pemandunya.

Pernyataan Kepala Ekonom Apollo Global Management mengenai efektivitas ekonomi AI menghadirkan beberapa catatan analitis penting bagi lanskap bisnis dan perbankan:

● Kesenjangan Nilai Investasi (Value Realization Gap): Terdapat jurang pemisah yang tajam antara pencipta infrastruktur AI (produsen chip, penyedia cloud) yang meraup untung besar dengan pengguna korporat di sektor riil yang harus menanggung biaya operasional tinggi tanpa imbal hasil instan.

● Pergeseran Paradigma Pengeluaran Korporat: Perusahaan mulai meninggalkan euforia adopsi AI tanpa arah dan mulai menghitung ulang efisiensi biaya (cost efficiency). Model langganan yang mahal memaksa manajemen melakukan audit ketat terhadap rasio biaya dan manfaat (cost-benefit analysis).

● Risiko Likuiditas dan Pasar Modal: Pembakaran modal triliunan rupiah oleh perusahaan pengembang AI meningkatkan kehati-hatian investor institusional terhadap keberlanjutan valuasi sektor teknologi di pasar modal. ■

__________

FAQ:

Q: Apa temuan utama Torsten Slok mengenai dampak ekonomi kecerdasan buatan (AI)?
A: Slok menemukan bahwa AI baru memberikan manfaat ekonomi, kenaikan produktivitas, dan laba bersih bagi tujuh raksasa teknologi (Mag 7), sementara 493 perusahaan lain di indeks S&P 500 belum merasakannya.

Q: Perusahaan mana saja yang masuk dalam kelompok Magnificent 7?
A: Kelompok tersebut terdiri dari Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Nvidia, Tesla, dan Microsoft.

Q: Bagaimana pandangan dunia usaha saat ini terhadap pengeluaran untuk teknologi AI?
A: Dunia usaha mulai memandang pengeluaran AI bukan lagi sebagai investasi pertumbuhan yang menjanjikan keuntungan instan, melainkan sebagai beban biaya operasional yang menekan neraca keuangan.

Q: Apa tanggapan pimpinan Goldman Sachs terkait penggunaan model AI tingkat lanjut?
A: Direktur Utama Goldman Sachs, David Solomon, menyatakan bahwa sangat sedikit pekerjaan korporasi yang benar-benar memerlukan model AI tingkat tertinggi yang mahal. ■

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update