DBS Masuk Era Agentic Banking, 10.000 AI Agent Sudah Dibuat Karyawan
DBS Group resmi memasuki era agentic banking—fase baru transformasi perbankan di mana sistem artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar menjadi alat bantu pasif, melainkan bertindak sebagai agen otonom yang mampu merencanakan dan mengeksekusi alur kerja kompleks.
__________
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ DBS Group mentransformasi operasional lewat era agentic banking dengan pengerahan 10.000 AI agent ciptaan internal karyawan.
■ Investasi teknologi terbukti menghasilkan nilai ekonomi S1 miliar (US782 juta) serta memangkas waktu onboarding wealth management hingga 50%.
■ Penerapan AI mengusung prinsip "protect workers, not jobs" melalui pelatihan 40.000 karyawan dan tata kelola agent registry yang ketat.
__________
DBS Group memasuki fase baru transformasi teknologi dengan mendorong penggunaan artificial intelligence (AI) dari sekadar alat bantu digital menuju agentic banking, model perbankan yang memungkinkan AI agent merencanakan dan menjalankan sejumlah pekerjaan menggunakan perangkat digital dengan intervensi manusia yang lebih terbatas.
CEO DBS Tan Su Shan menyebut perubahan tersebut sebagai tahap lanjutan setelah era digital banking.
“Segera dunia akan berubah dari digital banking menjadi agentic banking,” kata Tan kepada The Business Times dalam wawancara 1 Oktober 2026, sebagaimana dikutip VnExpress.
DBS, yang berdiri pada 1968 untuk mendukung industrialisasi Singapura, kini merupakan bank terbesar di Asia Tenggara berdasarkan aset. Di bawah kepemimpinan Tan, yang menjadi CEO pada Maret 2025 dan merupakan perempuan pertama yang memimpin DBS, AI ditempatkan sebagai bagian penting dari transformasi operasional bank.
10.000 AI Agent Dibuat Karyawan DBS
DBS mulai menyediakan kemampuan membuat AI agent bagi karyawannya pada akhir 2025. Dalam beberapa bulan, karyawan telah membuat sekitar 10.000 personal AI agents.
DBS membagi penggunaan AI agent ke dalam tiga kelompok, yakni personal agent, team agent, dan enterprise agent yang dirancang untuk menangani alur kerja yang lebih kompleks.
Tan sendiri menggunakan AI agent untuk memantau berita perbankan dan pernyataan CEO bank lain di dunia.
Transformasi tersebut juga didorong melalui budaya internal. Dalam sebuah pertemuan pimpinan DBS yang dihadiri sekitar 200–300 eksekutif senior, peserta mengenakan kaus bertuliskan, “Talk is cheap. Show me your agent" (Bicara itu mudah. Tunjukkan agen AI buatanmu).
Para eksekutif kemudian belajar membangun AI agent sendiri.
Data yang ada mengungkapkan sekitar 7 dari 10 karyawan DBS menggunakan perangkat generative AI, termasuk platform internal DBSGPT dan Microsoft Copilot. Secara keseluruhan, perangkat tersebut menghasilkan sekitar 1,8 juta prompt per bulan untuk kebutuhan riset, penulisan, penerjemahan, brainstorming, dan peringkasan.
AI Mulai Masuk ke Proses Kredit
Penggunaan AI di DBS tidak berhenti pada pekerjaan administratif dan produktivitas karyawan. Dalam proses penilaian kredit, sebanyak 70 AI agent khusus dapat menjalankan bagian-bagian berbeda dari proses tersebut dan menghasilkan draft credit memo.
Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan credit manager manusia.
Model ini menunjukkan pendekatan DBS terhadap AI: mesin mengambil alih pekerjaan yang dapat diotomatisasi, sedangkan manusia tetap memegang fungsi pengawasan dan pengambilan keputusan.
Dengan demikian, AI bukan ditempatkan sebagai pengganti langsung pengambil keputusan, melainkan sebagai sistem yang memperkuat kapasitas manusia.
AI Beri Nilai Ekonomi S$1 Miliar
DBS menyatakan investasi AI dan data analytics mulai memberikan hasil yang terukur.
Pada 2025, AI dan data analytics menghasilkan sekitar S$1 miliar atau US$782 juta nilai ekonomi bagi DBS.
Di bisnis wealth management, AI juga membantu memangkas waktu penyelesaian proses onboarding sebesar 50% dalam lima bulan pertama 2026.
Tan mengatakan AI mulai membantu relationship manager, terutama yang lebih muda, dalam menghasilkan ide untuk nasabah. Menurutnya, kemampuan tersebut berpotensi membantu bank menghasilkan lebih banyak fee income dengan jumlah tenaga kerja yang sama.
“Kita mulai melihat benih-benih keberhasilan dari kerja AI dalam menghasilkan ide-ide yang mampu mendatangkan pendapatan komisi,” ujar Tan kepada Channel News Asia, merujuk pada kontribusi AI dalam membantu relationship manager merumuskan strategi investasi nasabah yang berdampak pada peningkatan fee-based income.
Eksperimen AI DBS Sudah Dimulai Sejak 2014
Transformasi AI DBS bukan proyek yang baru dimulai setelah ledakan generative AI. Bank tersebut telah bereksperimen dengan AI selama lebih dari satu dekade.
Pada 2014, DBS bekerja sama dengan IBM Watson untuk mengembangkan sistem wealth advisory berbasis AI. Namun, teknologi tersebut hanya mencapai akurasi sekitar 80% dan pada akhirnya tidak berjalan sesuai harapan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan AI DBS. Perbedaannya, AI generatif dan agentic AI saat ini menawarkan kemampuan yang lebih luas untuk memahami instruksi, menghasilkan konten, menggunakan perangkat digital, dan menyelesaikan rangkaian pekerjaan.
Namun, semakin besar kemampuan AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan. DBS Pilih “Protect Workers, Not Jobs”. Transformasi AI membawa konsekuensi terhadap tenaga kerja.
Tan mengatakan pendekatan DBS bukan sekadar mempertahankan pekerjaan yang ada, melainkan “protect workers, not jobs”.
Sebanyak 40.000 karyawan DBS mendapatkan pelatihan AI dasar. Sementara itu, sekitar 11.000 karyawan mengikuti pelatihan yang lebih mendalam untuk mempersiapkan mereka menghadapi perubahan atau munculnya peran baru.
Tan juga memperkirakan AI akan mengurangi secara signifikan kebutuhan terhadap sekitar 3.000 production engineers yang sebelumnya diperlukan DBS.
Implikasinya bukan sekadar pengurangan pekerjaan rutin. Struktur kompetensi perbankan juga berubah karena karyawan dituntut bekerja pada level yang lebih tinggi.
Tantangan Terbesar: Trust, Data, dan Accountability
Semakin otonom AI, semakin besar pula tantangan bagi bank. DBS melihat tiga hal sebagai strategic moats dalam transformasi tersebut: trust, data, dan culture.
Data nasabah dan transaksi membuat AI dapat memberikan hasil yang lebih relevan. Budaya organisasi membantu karyawan beradaptasi. Sementara trust menjadi semakin penting ketika AI memperoleh kewenangan lebih besar untuk menjalankan aktivitas.
Untuk mengendalikan risiko, DBS telah memperkenalkan agent registry dan berbagai kontrol yang mengatur data apa yang dapat diakses AI agent, bagaimana aktivitas agent dilacak, serta siapa yang tetap bertanggung jawab atas tindakan tersebut.
DBS juga berencana memperluas penggunaan agent dari lingkungan internal menuju AI agent yang dapat membantu nasabah secara langsung.
Tahap ini akan menjadi jauh lebih kompleks karena menyangkut data nasabah, keputusan finansial, keamanan, transparansi, dan akuntabilitas.
Dari Digital Banking ke Agentic Banking
Perubahan yang didorong Tan Su Shan menunjukkan bahwa kompetisi teknologi perbankan mulai bergeser.
Pada fase digital banking, bank berlomba memindahkan layanan dari kantor cabang ke internet dan aplikasi mobile.
Pada fase berikutnya, fokus bergeser ke otomatisasi dan personalisasi menggunakan AI.
Agentic banking membawa perubahan yang lebih jauh: AI tidak hanya memberikan informasi atau rekomendasi, tetapi dapat menjalankan serangkaian tindakan berdasarkan tujuan yang diberikan.
Dalam konteks perbankan, kemampuan tersebut berpotensi digunakan untuk aktivitas seperti pembayaran, pengajuan kredit, investasi, wealth management, hingga pekerjaan operasional internal.
Namun, kemampuan tersebut juga meningkatkan risiko apabila agent melakukan tindakan tanpa kontrol yang memadai.
Karena itu, pengalaman DBS menunjukkan bahwa transformasi agentic banking tidak hanya membutuhkan teknologi AI. Bank juga membutuhkan governance, data architecture, human oversight, cybersecurity, auditability, dan budaya organisasi.
"AI-Enabled Bank with a Heart”
Di tengah agresivitas DBS mengadopsi AI, Tan justru menempatkan unsur manusia sebagai bagian penting dari strateginya.
Ia menyebut ambisi DBS sebagai “AI-enabled bank with a heart”.
Menurut Tan, AI dapat membuat karyawan lebih mampu dan layanan menjadi lebih efisien, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan hubungan, penilaian manusia, dan kepercayaan.
"AI tidak memiliki hati. Manusia memilikinya. Dan kami ingin menempatkan manusia di pusat dari setiap hal yang kami lakukan,” tegas Tan
Menurutnya, teknologi berfungsi meningkatkan efisiensi dan kapasitas analisis, namun keputusan akhir, kepemimpinan, dan hubungan emosional dengan nasabah tetap berada di tangan manusia.
Pernyataan tersebut menjadi garis besar filosofi DBS dalam memasuki era agentic banking. Bank tidak sedang sekadar mencari cara menggantikan manusia dengan mesin. Strateginya adalah mengubah pembagian kerja antara manusia dan AI—dengan AI menangani pekerjaan yang dapat dilakukan mesin, sementara manusia tetap bertanggung jawab terhadap keputusan, hubungan, dan kepercayaan.
Pelajaran bagi Perbankan Asia
Strategi DBS memberikan sejumlah pelajaran bagi industri perbankan.
Pertama, adopsi AI tidak lagi sebatas chatbot atau customer service. AI mulai masuk ke proses inti seperti kredit, wealth management dan produktivitas karyawan.
Kedua, keberhasilan AI harus diukur dari dampak bisnis, bukan sekadar jumlah model atau eksperimen yang dibuat. DBS, misalnya, mengaitkan AI dan data analytics dengan nilai ekonomi S$1 miliar pada 2025.
Ketiga, kesiapan tenaga kerja menjadi faktor yang sama pentingnya dengan teknologi. Pelatihan terhadap seluruh 40.000 karyawan menunjukkan bahwa transformasi AI merupakan perubahan organisasi, bukan hanya proyek departemen teknologi.
Keempat, semakin otonom AI, semakin penting governance. Agent registry, pembatasan akses data, pelacakan tindakan dan penetapan pihak yang bertanggung jawab menjadi komponen penting sebelum AI diberikan kewenangan lebih besar.
Bagi bank-bank di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perkembangan DBS menunjukkan bahwa pertanyaan strategisnya bukan lagi apakah AI akan digunakan.
Pertanyaannya adalah seberapa jauh AI diberi kewenangan untuk bertindak, bagaimana risikonya dikendalikan, dan bagaimana manusia tetap menjadi pengambil keputusan ketika konsekuensinya menyangkut uang dan kepercayaan nasabah.
Tan merangkum prinsip kepemimpinannya dengan kalimat sederhana: ketika keadaan buruk, jangan kehilangan hati; ketika keadaan baik, jangan kehilangan kepala. ■
_________
DIGIONARY:
● Agentic Banking: Model perbankan berbasis AI otonom (AI agent) yang mampu mengambil keputusan bertahap dan menyelesaikan alur kerja digital tanpa perlu petunjuk manusia di setiap langkah.
● Agent Registry: Sistem tata kelola dan pendaftaran internal untuk mencatat, membatasi hak akses, serta memantau semua tindakan yang dilakukan oleh agen AI.
● Credit Memo: Dokumen analisis keuangan dan penilaian risiko yang disusun sebagai dasar persetujuan atau penolakan pengajuan kredit nasabah.
● Fee-Based Income: Pendapatan non-bunga yang diperoleh bank dari komisi, biaya transaksi, atau jasa layanan keuangan lainnya.
● Onboarding: Proses pendaftaran, verifikasi identitas, dan legalisasi calon nasabah baru sebelum dapat menggunakan layanan perbankan.
