OJK Luncurkan Buku PELITA Syariah untuk Perkuat Literasi Melalui Jaringan Tokoh Agama
Penggunaan pendekatan tokoh agama dalam literasi keuangan syariah merupakan strategi omnichannel non-digital yang sangat cerdas di tengah penetrasi teknologi yang belum merata. Di saat lembaga keuangan berlomba-lomba mendigitalisasi layanan, penguatan kepercayaan melalui figur otoritas sosial lokal justru menjadi benteng pertahanan terbaik melawan disinformasi keuangan dan maraknya instrumen investasi ilegal.
_____________
KEY FACTS:
■ OJK meluncurkan PELITA Syariah di Makassar untuk memperluas edukasi keuangan syariah melalui jaringan tokoh agama dan pendakwah.
■ Berdasarkan SNLIK 2026, indeks literasi keuangan syariah mencapai 43,07%, sementara indeks inklusi keuangan berada di level 13,24%.
■ Rangkaian SYAFIF Goes to Makassar 2026 mencatat pembukaan 10.598 rekening baru dengan volume transaksi total mencapai Rp230,94 miliar.
■ Buku panduan ini turut memuat naskah khotbah dan materi edukasi untuk melindungi masyarakat dari produk keuangan ilegal serta pinjaman online bodong.
___________
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi meluncurkan Buku Panduan Literasi dan Referensi Dakwah Keuangan Syariah (PELITA Syariah) di sela perhelatan puncak Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Makassar 2026. Inisiatif strategis ini dihadirkan untuk menjembatani kesenjangan antara indeks literasi dan inklusi keuangan syariah nasional melalui pendekatan kultural berbasis jaringan dakwah.
Peluncuran panduan yang disusun bersama Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) ini dihelat di Trans Studio Mall Makassar, Minggu (1/11). Langkah tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian roadshow SYAFIF 2026 setelah sebelumnya sukses diselenggarakan di Banjarmasin dan Aceh.
Pendekatan Kultural Jaringan Dakwah Atasi Kesenjangan Literasi
Kesenjangan antara pemahaman masyarakat dan pemanfaatan produk keuangan syariah masih menjadi tantangan klasik di Indonesia. Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan syariah tercatat di angka 43,07%, namun inklusi keuangannya baru menyentuh 13,24%. Kesenjangan yang lebar ini menunjukkan bahwa tingginya pemahaman konseptual belum sepenuhnya terkonversi menjadi pemanfaatan produk secara aktif.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa edukasi finansial harus diperluas melalui kanal-kanal yang dekat dengan keseharian masyarakat. Melalui PELITA Syariah, para pendakwah, penyuluh agama, dan tokoh masyarakat dibekali materi terstruktur—termasuk naskah khotbah siap pakai—untuk menyebarkan pemahaman ekonomi syariah secara aplikatif.
"Pada intinya, ini untuk menjaga masyarakat kita dari ketidaktahuan yang kemudian dapat membahayakan masyarakat, seperti terkena berbagai macam scam, penipuan, maupun produk-produk ilegal seperti pinjol ilegal dan lain-lain," ujar Friderica dalam sambutannya. Ia juga menekankan bahwa inklusi tanpa literasi yang memadai menyimpan risiko kerugian yang masif bagi konsumen.
Dukungan penuh turut disuarakan oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, secara daring, serta Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI), Rahmat Hidayat. DMI berkomitmen mendorong para khatib untuk mengangkat isu ekonomi syariah secara berkala di rumah-rumah ibadah, menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Akselerasi Inklusi Melalui SYAFIF Goes to Makassar 2026
Puncak perhelatan SYAFIF Goes to Makassar 2026 yang berlangsung sejak 30 Oktober hingga 1 November 2026 menjadi katalisator nyata dalam mempertemukan masyarakat dengan pelaku industri jasa keuangan syariah. Acara ini melibatkan 22 stan lembaga keuangan syariah dan dua stan ekosistem pendukung.
Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution, yang turut hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya membangun kepercayaan publik. "Kepercayaan itu harus diperjuangkan. Salah satunya adalah dengan cara literasi yang baik," ungkap Farid.
Hasil konkret dari rangkaian acara yang mencakup masa pra-acara hingga penutupan mencatat pembukaan 10.598 rekening baru dengan total volume transaksi penghimpunan dan penyaluran dana menembus Rp230,94 miliar. Angka ini membuktikan bahwa strategi jemput bola melalui pameran edukatif efektif mendongkrak partisipasi publik.
Dari Pendekatan Korporat ke Komunitas
Peluncuran PELITA Syariah menandai babak baru pergeseran strategi literasi keuangan nasional dari pendekatan korporat-birokratis menuju pendekatan berbasis komunitas dan kultural. Dengan melibatkan institusi keagamaan seperti DMI dan Kemenag, OJK menyasar akar rumput (grassroots) secara masif. Bagi industri perbankan dan lembaga keuangan syariah, ekspansi literasi ini memperbesar basis potensi nasabah baru yang memiliki pemahaman risiko yang lebih matang, sekaligus menekan angka korban kejahatan keuangan digital di daerah.
Ke depan, efektivitas buku PELITA Syariah akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi di jaringan dakwah daerah serta sinergi lanjutan bersama Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dan asosiasi terkait. Industri keuangan syariah dituntut untuk merespons gelombang literasi ini dengan menghadirkan produk pembiayaan dan pendanaan digital yang kompetitif, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
Penggunaan pendekatan tokoh agama dalam literasi keuangan syariah merupakan strategi omnichannel non-digital yang sangat cerdas di tengah penetrasi teknologi yang belum merata. Di saat lembaga keuangan berlomba-lomba mendigitalisasi layanan, penguatan kepercayaan melalui figur otoritas sosial lokal justru menjadi benteng pertahanan terbaik melawan disinformasi keuangan dan maraknya instrumen investasi ilegal. ■
