Bank BSN Paparkan Strategi Keuangan Syariah Berkelanjutan di Forum IMF-World Bank 2026
Bank BSN paparkan strategi keuangan syariah di IMF-World Bank 2026 Bangkok.
_________
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Bank BSN tegaskan komitmen tingkatkan peran keuangan syariah sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan pada Pertemuan IMF-World Bank 2026.
■ Wadirut Bank BSN Arga M. Nugraha soroti urgensi kurangi fragmentasi pasar syariah ASEAN demi jangkau 250 juta populasi Muslim regional.
■ Forum di Bangkok dorong skema pembiayaan berbasis bagi hasil, sukuk, dan integrasi dana sosial Islam untuk transisi energi serta UKM.
■ Islamic Bank of Thailand bakal rumuskan "Bangkok Policy Note" sebagai panduan integrasi ekosistem keuangan syariah ASEAN ke pasar global.
____________
PT Bank Syariah Nasional (Bank BSN) secara tegas menyuarakan komitmennya untuk memperkuat posisi keuangan syariah sebagai pilar utama pembangunan berkelanjutan dan benteng ketahanan ekonomi global. Komitmen strategis tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Direktur Utama Bank BSN, Arga M. Nugraha, dalam forum internasional di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2026 yang berlangsung di Bangkok, Thailand, pada Rabu (14/10).
Mengusung tema "Keuangan Syariah: Dari Ketahanan Krisis menuju Pembiayaan Transisi", forum internasional tersebut diselenggarakan oleh Islamic Bank of Thailand (ibank) bekerja sama dengan International Islamic Economics and Finance Conference for Sustainable Development (IFESDC).
Perhelatan ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta dan pemangku kepentingan industri yang berasal dari berbagai negara di kawasan ASEAN, Afrika, hingga Timur Tengah.
Dalam panel diskusi yang berlangsung hangat, Arga memaparkan peta jalan dan strategi ketahanan perbankan syariah dalam merespons dinamika serta gejolak krisis ekonomi global. Ia mendorong agar perbankan syariah konsisten melakukan transformasi model pembiayaan ke arah skema yang lebih berorientasi pada prinsip bagi hasil, pengukuran dampak nyata pembiayaan terhadap lingkungan dan sosial, serta penguatan sinergi lintas negara.
"Proses tukar pikiran dan dialog internasional harus terus dilakukan dan dijaga momentumnya, terutama untuk membantu mengurangi fragmentasi pasar keuangan syariah di ASEAN," ujar Arga.
Menurut Arga, keterhubungan dan interoperabilitas pasar keuangan syariah di tingkat regional menjadi kunci utama untuk memperluas penetrasi layanan keuangan yang inklusif bagi populasi Muslim di kawasan ASEAN yang jumlahnya mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Atas dasar itulah, Bank BSN berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam memfasilitasi dialog strategis dan kolaborasi lintas batas yang mampu mengokohkan ekosistem syariah regional.
Acara dibuka dengan sambutan dari Yang Mulia Arun Boonchom, Sheikhul Islam Tailan, yang menggarisbawahi landasan fundamental keuangan syariah pada prinsip Maqasid al-Shariah. Ia menegaskan bahwa keuangan syariah mengedepankan nilai keadilan sosial, kesetaraan, transparansi pembagian risiko, serta pelestarian harta demi kemaslahatan bersama.
Sesi diskusi yang dimoderatori oleh perwakilan IFESDC Murniati Mukhlisin ini menghadirkan jajaran pakar dan pimpinan lembaga keuangan terkemuka, antara lain Presiden Islamic Bank of Thailand Thaweelap Rittapirom dan Presiden INCEIF University Mohd. Azmi Omar.
Para panelis sepakat bahwa instrumen keuangan syariah seperti sukuk serta akad berbasis pembagian risiko seperti musyarakah dan mudharabah memiliki kapasitas besar dalam menggalang pembiayaan bagi sektor-sektor strategis, termasuk proyek energi terbarukan, infrastruktur berkelanjutan, dan penguatan Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Selain instrumen komersial, forum tersebut memberikan perhatian khusus pada pentingnya mengintegrasikan dana sosial Islam—seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf—ke dalam arsitektur keuangan syariah secara luas. Integrasi ini dinilai sangat vital untuk memperkuat jaringan pengaman sosial dan mengakselerasi program pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang.
Pimpinan Islamic Development Bank (IsDB) Group, Muhammad Sulaiman Al Jasser, dalam sambutannya menegaskan bahwa tolok ukur kemajuan industri keuangan syariah masa depan tidak boleh lagi terbatas pada angka pertumbuhan aset semata. Indikator keberhasilan sejati terletak pada besarnya kontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat dan ketahanan komunitas.
Sebagai langkah konkret dari rangkaian forum ini, Islamic Bank of Thailand selaku tuan rumah akan merumuskan lembar rekomendasi kebijakan berjuluk "Bangkok Policy Note". Dokumen panduan ini diharapkan menjadi acuan strategis bagi pemangku kebijakan dalam mengembangkan Keuangan Transisi Islam (Islamic Transition Finance) melalui penguatan kapasitas institusi, perluasan inklusi finansial, serta penyatuan ekosistem keuangan syariah ASEAN dengan pasar global.
Strategi Mengatasi Fragmentasi Pasar ASEAN
Pandangan yang disampaikan pimpinan Bank BSN serta para tokoh keuangan syariah global di Bangkok memperlihatkan arah kebijakan dan intelijen finansial yang sangat relevan bagi industri perbankan.
Pasar keuangan syariah di ASEAN selama ini cenderung berjalan secara terisolasi akibat perbedaan standar regulasi dan kesiapan infrastruktur digital antarnegara. Dorongan Bank BSN untuk meningkatkan interoperabilitas lintas batas akan membuka jalur arus modal (cross-border capital flow) yang lebih lancar, khususnya dalam penerbitan sukuk regional dan pembiayaan perdagangan (trade finance).
Selain itu, peralihan menuju ekonomi hijau menuntut modal yang sangat masif. Penggunaan instrumen syariah seperti sukuk hijau (Green Sukuk) dan akad musyarakah/mudharabah memberikan alternatif pembiayaan berisiko terbagi (risk-sharing) yang ideal bagi proyek transisi energi dan infrastruktur terbarukan, mengurangi beban utang langsung pada neraca perusahaan.
Penggabungan dana sosial Islam (zakat dan wakaf) dengan instrumen pembiayaan komersial perbankan (blended finance) menciptakan struktur pembiayaan berbiaya rendah (low-cost capital). Skema ini meningkatkan kapasitas perbankan dalam menyalurkan pembiayaan inklusif bagi segmen UKM dan masyarakat prasejahtera tanpa menggerus marjin risiko perbankan. ■
____________
DIGIONARY:
● Bangkok Policy Note: Lembar rekomendasi kebijakan yang dirumuskan dalam forum keuangan syariah internasional di Bangkok sebagai acuan arah pengembangan Keuangan Transisi Islam global.
● Interoperabilitas: Kemampuan berbagai sistem, platform, atau lembaga keuangan yang berbeda untuk saling terhubung, berkomunikasi, dan bertukar data secara mulus tanpa hambatan teknis.
● Maqasid al-Shariah: Tujuan-tujuan utama penetapan hukum Islam yang mencakup perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta demi tercapainya kemaslahatan publik.
● Mudharabah: Akad kerja sama usaha antara pemilik modal (shahibul maal) yang menyediakan seluruh modal dan pengelola (mudharib) dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang disepakati.
● Musyarakah: Akad kerja sama pembiayaan di mana dua pihak atau lebih menyertakan modal untuk mendirikan atau mengembangkan usaha dengan pembagian keuntungan dan risiko sesuai porsi penyertaan modal.
