Rabu, 28 Okt 2026 DIGI-PRODUCTDigi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-Insights
Breaking
Beranda › Digi-Tech
Digi-Tech

Perbanas dan IBM Luncurkan White Paper, Dorong Perbankan Perkuat Tata Kelola AI

✍️ Raras Aivani Kusumendri 🕒 28 Oct 2026
Perbanas dan IBM merilis white paper bertajuk "Digital Sovereign AI and the Future of Trusted Banking".
Perbanas dan IBM merilis white paper bertajuk "Digital Sovereign AI and the Future of Trusted Banking".

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) bersama IBM merilis hasil riset yang menunjukkan bahwa tingkat kematangan tata kelola kecerdasan buatan (AI) di sektor perbankan Indonesia baru mencapai 55% di tengah tingginya ambisi kedaulatan digital.

__________

KEY FACTS:

■ Perbanas bersama IBM meluncurkan white paper bertajuk Digital Sovereign AI and the Future of Trusted Banking.
■ Sebanyak 73% bankir menilai kedaulatan digital sangat penting untuk transformasi bisnis.
■ Tingkat kematangan tata kelola AI di internal perbankan Indonesia baru mencapai 2,74 dari skala 5 (sekitar 55%).
■ Riset ini didasarkan pada survei terhadap 91 responden dari 35 institusi keuangan. Perbankan didorong menyusun use case registry dan memperkuat pemantauan model AI secara berkala.

_________

Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) di industri perbankan nasional terus mengalami eskalasi. Kendati demikian, laju adopsi teknologi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan tata kelola di internal perbankan.

Temuan tersebut terungkap dalam peluncuran white paper bertajuk Digital Sovereign AI and the Future of Trusted Banking yang disusun oleh Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) bersama IBM dan K&A di Grand Hyatt Jakarta, Selasa (27/10).

Berdasarkan survei yang melibatkan 91 responden dari 35 institusi keuangan, sebanyak 73% bankir menilai kedaulatan digital sangat relevan bagi agenda transformasi bisnis dalam 12 hingga 24 bulan ke depan. Namun, tingkat kematangan tata kelola AI di organisasi perbankan secara rata-rata baru mencapai angka 2,74 dari skala 5, atau setara dengan tingkat kematangan sekitar 55%.

Ketua Bidang Technology & Security Perbanas, Toto Prasetio, menyatakan bahwa industri perbankan perlu mengalihkan fokus dari sekadar mengadopsi teknologi AI menuju penerapan kedaulatan digital secara nyata dalam praktik operasional harian.

"Seiring meningkatnya adopsi AI, prioritas industri perbankan adalah membangun pemahaman bersama tentang penerapan kedaulatan digital dalam praktik. Keselarasan yang lebih kuat antara bank, regulator, asosiasi industri, dan mitra teknologi akan berperan penting dalam membangun tata kelola serta kapabilitas yang dibutuhkan untuk mendukung adopsi AI yang bertanggung jawab dan tepercaya," ujar Toto.

Urgensi Inventarisasi dan Pemantauan Model

Managing Partner IBM Consulting Indonesia, Juvanus Chandra, menambahkan bahwa kecerdasan buatan bukan lagi sekadar instrumen uji coba masa depan, melainkan telah beroperasi aktif dalam aktivitas perbankan sehari-hari.

"Seiring dengan adopsi AI yang sangat cepat dan kapabilitas otonom yang tinggi, pertanyaan kunci yang harus dijawab adalah bagaimana bank sebenarnya mengendalikan teknologi dan keputusan yang digunakan saat ini," tegas Juvanus.

Untuk menjembatani kesenjangan kesiapan tata kelola tersebut, white paper Perbanas dan IBM merekomendasikan langkah-langkah mitigasi yang terukur bagi industri perbankan:

● Penyusunan Inventaris Penggunaan AI (Use Case Registry): Membantu bank mendata berbagai aplikasi AI yang sedang berjalan di dalam organisasi, sehingga penerapannya terpantau secara terstruktur.

● Pemantauan Model Berkala: Memperkuat pengawasan kinerja model AI secara berkelanjutan untuk memastikan teknologi tersebut tetap berada dalam koridor kepatuhan dan mendukung prinsip AI yang bertanggung jawab (responsible AI).

Temuan riset Perbanas dan IBM yang menunjukkan tingkat kematangan tata kelola AI perbankan sebesar 55% membawa implikasi strategis bagi industri finansial. Kecepatan bank dalam menggelar solusi berbasis AI sering mendahului pembentukan kerangka kerja manajemen risiko internal sehingga menciptakan celah kerentanan operasional dan kepatuhan regulasi. 

Karena kapabilitas otonom AI menuntut pengawasan yang lebih kuat, bank tidak dapat hanya mengandalkan audit manual, tetapi juga perlu membangun sistem pemantauan model otomatis untuk mencegah bias keputusan atau kegagalan sistemik. Selain itu, kompleksitas regulasi kedaulatan digital menegaskan bahwa bank tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan kolaborasi erat dengan regulator seperti Bank Indonesia dan OJK serta mitra teknologi global. ■

__________

FAQ:

Q: Berapa tingkat kematangan tata kelola AI di sektor perbankan Indonesia berdasarkan riset Perbanas dan IBM?
A: Tingkat kematangan tata kelola AI perbankan tercatat sebesar 2,74 dari skala 5, atau sekitar 55%.

Q: Berapa persentase bankir yang menganggap kedaulatan digital itu penting?
A: Sebanyak 73% bankir menilai kedaulatan digital sangat relevan bagi agenda transformasi perbankan dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.

Q: Apa rekomendasi utama dari white paper Perbanas dan IBM untuk perbankan?
A: Perbankan direkomendasikan untuk menyusun inventaris penggunaan AI (use case registry) serta memperkuat pemantauan model AI secara berkala. ■

 

DP
Deddy H. Pakpahan
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update