Kamis, 01 Okt 2026 Digi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-InsuranceDigi-Lifestyle
Beranda › Digi-Tech
Digi-Tech

Optimalkan Potensi AI, Bank Neo Commerce Soroti Pentingnya Tata Kelola Risiko dan Cybersecurity

✍️ Raras Aivani Kusumendri 🕒 30 Sep 2026
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) menegaskan komitmennya untuk mengadopsi AI secara bertahap dan bertanggung jawab.
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) menegaskan komitmennya untuk mengadopsi AI secara bertahap dan bertanggung jawab.

PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) menegaskan komitmennya untuk mengadopsi AI secara bertahap dan bertanggung jawab, dengan memprioritaskan kesiapan teknologi, Cybersecurity, dan tata kelola risiko yang ketat. Transisi ini tidak akan mengeliminasi peran manusia, melainkan menggeser fokus pada fungsi judgement, empati, dan pengawasan strategis.

__________

DIGI-HIGHLIGHTS:

■ AI diprediksi menggeser paradigma layanan perbankan dari responsif-digital menjadi prediktif, relevan, dan personal sesuai konteks nasabah.
■ Penerapan AI di industri keuangan wajib mengedepankan aspek keamanan, Cybersecurity, governansi, kompetensi SDM, serta human oversight.
■ Peran manusia tetap krusial dalam perbankan masa depan untuk fungsi pengambilan keputusan, judgement, empati, dan pemahaman konteks.

__________

Tren Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar wacana teknis, melainkan kian nyata mendisrupsi lanskap industri perbankan nasional. Setelah gelombang transformasi digital memudahkan akses layanan, perkembangan AI kini membuka cakrawala baru yang menjanjikan efisiensi, manajemen risiko yang lebih presisi, dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan nasabah. PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) menegaskan pentingnya industri mengikuti dinamika ini agar tetap relevan dalam melayani masyarakat.

Adrian Soewardjo, Direktur Operasional & Teknologi Informasi PT Bank Neo Commerce Tbk, menyatakan bahwa bagi BNC, mengikuti dan memahami perkembangan teknologi secepat AI adalah sebuah keharusan. 

"Bagi kami, penting untuk terus mengikuti dan memahami perkembangan tersebut, termasuk melihat bagaimana teknologi ini dapat memberikan manfaat bagi industri perbankan dan masyarakat. Namun, penerapannya tentu perlu mempertimbangkan kesiapan teknologi, keamanan, tata kelola, serta kebutuhan nasabah," ujar Adrian dalam siaran pers, Senin (30/9).

Optimalisasi AI Lebih dari Sekadar Chatbot

Salah satu potensi pergeseran fundamental yang disoroti adalah transisi dari layanan yang bersifat responsif menuju layanan yang semakin prediktif. Melalui pemanfaatan data yang tepat, perbankan masa depan berpeluang memberikan informasi dan solusi yang sangat relevan sesuai konteks nasabah. BNC menekankan, realisasi peluang ini harus dibarengi dengan kepatuhan tinggi terhadap privasi, keamanan data, persetujuan nasabah, dan prinsip kehati-hatian (prudential principles).

Lebih jauh, pemanfaatan AI di sektor perbankan terbukti tidak terbatas pada penggunaan Generative AI atau sekadar chatbot untuk layanan pelanggan. AI memiliki fungsi yang jauh lebih luas, mulai dari deteksi penipuan (fraud detection), manajemen risiko, penilaian kredit (credit assessment), kepatuhan (compliance), analisis data, hingga pengembangan produk dan layanan yang terpersonalisasi.

Wacana industri pun kini mulai bergeser ke arah Agentic AI. Teknologi ini memungkinkan sistem AI tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga mengeksekusi serangkaian proses berdasarkan parameter dan kewenangan yang telah ditentukan. "Semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan teknologi tersebut digunakan secara tepat. Dalam industri perbankan, aspek trust menjadi sangat penting," tegas Adrian.

Keamanan Data dan Peran Manusia Tetap Utama

Revolusi AI di perbankan pada akhirnya bukan sekadar soal kecanggihan algoritma. Kualitas data yang tinggi, Cybersecurity yang solid, kompetensi sumber daya manusia (SDM), tata kelola, dan kemampuan mengelola risiko menjadi faktor determinan. Hal ini sejalan dengan Kerangka Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2025, yang menempatkan manajemen risiko sebagai pilar utama.

BNC memandang, adopsi teknologi harus menjadi sarana untuk memberikan manfaat nyata bagi nasabah. Pengembangan AI akan terus dipelajari seiring bertambahnya kesiapan infrastruktur dan Cybersecurity perbankan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi dipastikan membawa perubahan pada peran SDM di industri keuangan. Meskipun proses operasional kian terotomatisasi, peran manusia diyakini tetap tak tergantikan. SDM perbankan masa depan akan semakin berfokus pada fungsi judgement, empati, pengambilan keputusan strategis, pengawasan (human oversight), dan pemahaman mendalam terhadap konteks nasabah secara holistik. ■

DP
Deddy H. Pakpahan
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update