Kinerja Solid Q3 2026: Bank Neo Commerce Cetak Laba Bersih Rp430,98 Miliar
BNC ditantang untuk mempertahankan momentum profitabilitas ini di tengah persaingan industri perbankan digital yang semakin ketat. Fokus manajemen diperkirakan akan tetap tertuju pada penguatan ekosistem digital, diversifikasi produk pendanaan yang efisien, serta penjagaan kualitas kredit agar rasio NPL tetap berada di bawah rata-rata industri.
_____________
KEY FACTS:
■ PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatatkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp430,98 miliar hingga kuartal III (Q3) 2026.
■ Pendapatan bunga bersih tercatat mencapai Rp1,69 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi tumbuh 5,67% secara tahunan (yoy) menjadi Rp90,55 miliar.
■ Efisiensi operasional kian membaik, tercermin dari rasio BOPO yang turun ke level 81,77% dan NPL Gross yang melandai di angka 2,78%.
■ Posisi permodalan semakin kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 53,40% dan modal inti menembus Rp4,35 triliun.
___________
PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mempertahankan tren pertumbuhan positif sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Bank digital berkode saham BBYB tersebut membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp430,98 miliar per September 2026, ditopang oleh perbaikan efisiensi operasional dan kualitas aset yang semakin terkendali.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Adrian Soewardjo, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari konsistensi perseroan dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan manajemen risiko yang ketat. Fokus manajemen diarahkan pada pertumbuhan yang berkualitas alih-alih sekadar mengejar volume skala bisnis semata.
Penguatan Fundamental dan Selektifitas Penyaluran Kredit
Sepanjang Januari hingga September 2026, BNC mencatatkan total pendapatan bunga bersih sebesar Rp1,69 triliun. Selain itu, lini pendapatan berbasis komisi (fee-based income) turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan sebesar 5,67% secara tahunan menjadi Rp90,55 miliar.
Dari sisi neraca keuangan, BNC membukukan total aset sebesar Rp17,19 triliun dengan perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp11,86 triliun. Sementara itu, total penyaluran kredit tercatat sebesar Rp6,73 triliun. Adrian menegaskan bahwa penyaluran pembiayaan saat ini dilakukan secara lebih selektif dengan memprioritaskan profil risiko debitur dan potensi imbal hasil yang berkelanjutan.
"Strategi pertumbuhan yang kami jalankan saat ini bukan semata-mata mengejar peningkatan skala bisnis, melainkan memastikan bahwa setiap aktivitas usaha memberikan kontribusi yang sehat bagi perseroan," ujar Adrian di Jakarta, Selasa (3/11).
Efisiensi Operasional dan Kualitas Aset yang Semakin Sehat
Komitmen BNC terhadap efisiensi tercermin dari perbaikan sejumlah rasio penting operasional. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) menunjukkan tren perbaikan menjadi 81,77% pada September 2026, membaik dari 82,81% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Demikian pula dengan Cost to Income Ratio (CIR) yang bergerak turun ke level 31,45%.
Kualitas aset bank juga kian terjaga. Rasio kredit macet (Non-Performing Loan / NPL) Gross berhasil ditekan ke level 2,78%, sementara NPL Net berada di posisi yang sangat aman yakni 0,27%. Di sisi lain, ketahanan permodalan perseroan semakin solid dengan lonjakan CAR mencapai 53,40% dan modal inti tumbuh 10,41% secara tahunan menjadi Rp4,35 triliun, didukung oleh marjin bunga bersih (Net Interest Margin / NIM) yang terjaga di level 14,30%.
Model Bisnis Berkelanjutan
Kinerja keuangan Bank Neo Commerce pada Q3 2026 membuktikan bahwa bank digital di Indonesia kini semakin matang dalam transisi dari fase bakar uang menuju model bisnis yang berkelanjutan dan berorientasi profit. Kemampuan menekan rasio efisiensi (BOPO) di tengah ekspansi kredit yang selektif menunjukkan bahwa tata kelola risiko telah menjadi prioritas utama di sektor perbankan digital, memberikan kepercayaan lebih bagi investor dan regulator di tengah dinamika makroekonomi.
Ke depan, BNC ditantang untuk mempertahankan momentum profitabilitas ini di tengah persaingan industri perbankan digital yang semakin ketat. Fokus manajemen diperkirakan akan tetap tertuju pada penguatan ekosistem digital, diversifikasi produk pendanaan yang efisien, serta penjagaan kualitas kredit agar rasio NPL tetap berada di bawah rata-rata industri.
Profitabilitas konsisten yang dibukukan oleh bank digital menegaskan bahwa kekuatan teknologi tidak lagi cukup diukur dari jumlah unduhan aplikasi semata, melainkan dari kedalaman fundamental keuangan dan ketepatan manajemen risiko. Pertumbuhan laba yang sehat adalah fondasi mutlak agar bank digital dapat bertahan sebagai institusi keuangan yang tangguh dalam jangka panjang. ■
