Dorong National Pride, BSI Pasang Target Masuk Top 5 Bank Syariah Dunia pada 2030
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan ambisi besar perseroan untuk menembus jajaran lima bank syariah terbesar di dunia pada 2030 melalui penguatan aset, digitalisasi layanan, dan optimalisasi potensi pasar domestik.
_____________
KEY FACTS:
■ BSI menargetkan masuk jajaran lima bank syariah terbesar di dunia pada 2030 demi mendongkrak kebanggaan nasional Indonesia.
■ Saat ini BSI berada di peringkat 10 global dengan kapitalisasi pasar US$5,8 miliar, tertinggal dari negara berpenduduk lebih kecil.
■ Transformasi digital dan penetrasi seluler menjadi strategi utama BSI untuk mengatasi rendahnya penetrasi pasar syariah yang baru 7%.
_____________
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) menargetkan posisi strategis di kancah internasional dengan membidik kursi lima besar bank syariah global pada tahun 2030. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, manajemen BSI menilai pencapaian ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan bentuk kebanggaan nasional (national pride) bagi Indonesia.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengungkapkan bahwa saat ini posisi bank pelat merah tersebut baru berada di peringkat 12 dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. Per Mei 2026, kapitalisasi pasar BSI tercatat sebesar US$5,8 miliar (setara Rp91 triliun), menempatkannya di urutan ke-10 global. Namun, posisi puncak saat ini masih didominasi oleh bank-bank dari negara dengan populasi muslim yang jauh lebih kecil dibanding Indonesia.
"Masa negara dengan penduduk muslim terbesar, banknya enggak bisa masuk top 5 global islamic bank? Ini lebih kepada national pride, national pride, harusnya kita dorong ada bank dari Indonesia yang masuk ke lima besar," ujar Anggoro saat berbicara dalam acara CEO Lecture di Perbanas Institute, Jakarta, Rabu (28/10).
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, BSI mematok target finansial yang agresif pada 2030, yakni total aset menembus US$63,8 miliar (Rp1.000 triliun), tingkat pengembalian ekuitas (Return on Equity / ROE) sebesar 25%, serta basis nasabah aktif hingga 40 juta pengguna. Menurut Anggoro, target ini sangat realistis mengingat Indonesia memiliki 230 juta penduduk muslim, di mana 70% di antaranya berada pada usia produktif dengan daya beli yang kuat.
Kendati demikian, pertumbuhan industri keuangan syariah di tanah air masih dihadapkan pada sebuah paradoks. Di satu sisi, potensi pasarnya sangat raksasa; namun di sisi lain, tingkat penetrasi ekonomi syariah nasional saat ini baru menyentuh angka 7%. Anggoro menyebut rendahnya literasi, inklusi, serta keterbatasan jaringan fisik—di mana jumlah kantor cabang syariah baru mencakup sepersepuluh dari total 25.000 kantor cabang bank konvensional—menjadi hambatan utama.
Oleh karena itu, transformasi digital melalui pengembangan aplikasi perbankan seluler dipandang bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan kebutuhan mutlak untuk bertahan hidup (survival mode).
Melalui optimalisasi digital dan dukungan penuh dari pemerintah serta badan pengelola investasi Danantara, BSI optimistis dapat mengatasi hambatan geografis dan mempercepat penetrasi pasar hingga ke seluruh pelosok negeri. ■
__________
FAQ:
Q: Berapa target aset yang ingin dicapai BSI pada tahun 2030?
A: BSI menargetkan total aset sebesar US$63,8 miliar (setara Rp1.000 triliun) pada tahun 2030.
Q: Berapa tingkat penetrasi ekonomi syariah di Indonesia saat ini?
A: Penetrasi ekonomi syariah di Indonesia saat ini baru mencapai angka 7% dari total potensi pasar yang ada.
Q: Apa strategi utama BSI untuk mengejar target pertumbuhan dan memperluas inklusi?
A: BSI mengandalkan transformasi digital melalui aplikasi seluler secara masif untuk mengatasi keterbatasan jumlah kantor fisik dibanding bank konvensional. ■
