Nakhoda BCA Digital Lanny Budiati Masuk Daftar "Forbes Asia Power Businesswomen 2026"
Transformasi perbankan digital tidak cukup hanya didukung oleh suntikan modal yang besar, melainkan sangat bergantung pada visi kepemimpinan yang adaptif dan berorientasi jangka panjang. Keberhasilan Lanny Budiati menakhodai BCA Digital membuktikan bahwa masa depan perbankan seluler menuntut kedalaman strategi yang memadukan keandalan operasional perbankan tradisional dengan kelincahan inovasi teknologi finansial modern.
____________
KEY FACTS:
■ Presiden Direktur BCA Digital, Lanny Budiati, masuk dalam daftar Forbes Asia’s Power Businesswomen 2026. Lanny merintis karier perbankan sejak menjadi management trainee di Bank Central Asia (BCA) pada 1991.
■ Di bawah kepemimpinannya, laba bersih BCA Digital melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi Rp213,4 miliar, dengan pertumbuhan kredit 85% menjadi Rp8,6 triliun.
■ Generasi Z dan milenial menjadi motor pertumbuhan utama, mencakup lebih dari 90% dari total basis pengguna aplikasi blu.
_______________
Kepemimpinan di sektor perbankan digital Indonesia kembali mendapat pengakuan global. Presiden Direktur PT Bank Digital BCA (BCA Digital), Lanny Budiati, resmi dinobatkan sebagai salah satu figur dalam daftar prestisius "Forbes Asia’s Power Businesswomen 2026", yang mengapresiasi 20 wanita pemimpin bisnis paling berpengaruh di kawasan Asia.
Di bawah kepemimpinan Lanny, anak usaha PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang didukung oleh keluarga Hartono ini bertransformasi pesat sejak meluncurkan aplikasi blu pada 2021. Berawal dari akuisisi Bank Royal pada 2019, bank digital tersebut sukses mencatatkan profitabilitas pada 2023 dan berkembang menjadi bank digital terbesar keenam di Indonesia dengan basis 3,1 juta nasabah hingga akhir 2025.
Perjalanan Karier dan Transformasi Blu Menuju Profitabilitas
Perjalanan Lanny Budiati di dunia perbankan berakar panjang dari institusi keuangan konvensional. Memulai kariernya sebagai management trainee di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada tahun 1991, ia sempat memperkaya pengalamannya di beberapa lembaga keuangan lain sebelum kembali ke BCA pada tahun 2001, di mana ia pernah mengemban posisi strategis sebagai Kepala Wilayah BCA Jawa Barat.
Ketika BCA mengakuisisi Bank Royal pada 2019 untuk merambah sektor perbankan digital, Lanny dipercaya memimpin transformasi tersebut hingga melahirkan aplikasi perbankan seluler blu pada 2021. Di tengah iklim ekonomi yang menantang serta persaingan ketat dengan pemain lain seperti SeaBank dan Bank Jago, Lanny berhasil membawa BCA Digital mencetak laba bersih sebesar Rp213,4 miliar (sekitar US$11,8 juta), sementara total penyaluran kredit melonjak 85% menjadi Rp8,6 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) melesat 59% menjadi Rp14,3 triliun.
Keberhasilan ini ditopang oleh ketepatan strategi membidik segmen generasi muda. Generasi Z dan milenial tercatat mendominasi lebih dari 90% dari total pengguna blu.
"Kami percaya dekade perbankan berikutnya akan ditentukan oleh kepercayaan, akses, dan relevansi personal," ujar Lanny dalam wawancaranya bersama Asian Business Review, menegaskan posisi blu bukan sekadar bank, melainkan mitra finansial jangka panjang bagi generasi muda Indonesia.
Pengaruh Kuat Ekosistem dan Kepemimpinan Konglomerasi
Capaian BCA Digital tidak dapat dilepaskan dari kekuatan ekosistem induk usahanya, PT Bank Central Asia Tbk, yang merupakan bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan kapitalisasi pasar. Melalui holding company Dwimuria Investama Andalan, mayoritas saham BCA dikendalikan oleh keluarga Hartono, orang terkaya di Indonesia.
Transformasi yang dipimpin Lanny membuktikan bahwa sinergi antara kekuatan modal korporasi raksasa dan ketangkasan inovasi digital mampu menghasilkan model bisnis perbankan yang berkelanjutan. Pengakuan dari Forbes Asia ini sekaligus mengukuhkan posisi kepemimpinan perempuan Indonesia dalam kancah transformasi keuangan regional.
Masuknya pemimpin bank digital lokal ke dalam daftar elit Forbes Asia’s Power Businesswomen memberikan sinyal positif bagi daya saing industri keuangan Indonesia di tingkat internasional. Hal ini menunjukkan bahwa strategi transformasi digital yang dijalankan oleh perbankan nasional tidak hanya sukses berekspansi secara domestik dari sisi perolehan laba dan nasabah, tetapi juga diakui memiliki tata kelola dan standar kepemimpinan berkelas global. Bagi industri perbankan, pencapaian ini menggarisbawahi pentingnya adaptasi teknologi yang berpusat pada pengalaman nasabah muda (mobile-first approach).
Tantangan bagi Lanny Budiati dan manajemen BCA Digital adalah mempertahankan momentum pertumbuhan profitabilitas di tengah pengetatan likuiditas dan persaingan ketat ekosistem bank digital tanah air. Fokus strategis diperkirakan akan diarahkan pada penguatan ekosistem digital terintegrasi, perluasan portofolio pembiayaan produktif yang sehat, serta peningkatan literasi keuangan digital bagi jutaan generasi muda Indonesia.
Transformasi perbankan digital tidak cukup hanya didukung oleh suntikan modal yang besar, melainkan sangat bergantung pada visi kepemimpinan yang adaptif dan berorientasi jangka panjang. Keberhasilan Lanny Budiati menakhodai BCA Digital membuktikan bahwa masa depan perbankan seluler menuntut kedalaman strategi yang memadukan keandalan operasional perbankan tradisional dengan kelincahan inovasi teknologi finansial modern. ■
