Nekat Bertahan di Tahap Pilot Project? EY Ingatkan Bank Soal Risiko Inefisiensi Investasi AI
Laporan riset EY menunjukkan bahwa meskipun 75% lembaga keuangan telah memanfaatkan AI, mayoritas masih terjebak pada penggunaan pilot project yang terisolasi sehingga sulit menghasilkan imbal hasil investasi (ROI) yang terukur.
Ernst & Young (EY) menegaskan bahwa era uji coba (pilot project) kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor perbankan telah usai dan kini bergeser menuju penerapan governed intelligence pada proses operasional utama.
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Bank mulai mentransformasi AI dari sekadar uji coba terisolasi menjadi governed intelligence yang terintegrasi pada seluruh proses operasional harian.
■ Agentic banking diterapkan melalui jaringan agen AI khusus yang bekerja di bawah kendali tata kelola serta batas otoritas yang ditetapkan manusia.
■ Akuntabilitas keputusan AI dibuktikan secara auditabel melalui penerapan governance-as-code dan pencatatan riwayat keputusan flight recorder.
Ernst & Young (EY) menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di industri perbankan global sedang mengalami pergeseran fundamental. Era eksperimentasi dan uji coba terisolasi (pilot project) kini mulai ditinggalkan demi mengadopsi skema governed intelligence yang terintegrasi langsung ke dalam proses bisnis utama.
Berdasarkan riset EY bersama otoritas keuangan Inggris (Bank of England dan FCA), sebanyak 75% lembaga keuangan dilaporkan telah menggunakan teknologi AI. Namun, dari jumlah tersebut, keputusan yang diambil secara sepenuhnya otonom oleh AI baru menyentuh angka 2%, sementara 55% sisanya masih melibatkan keputusan terotomatisasi dengan batas kendali manusia.
Kendala Buktikan ROI
Pemimpin Sektor Jasa Keuangan EY-Parthenon EMEIA, Ajay Rawal, bersama Dr. Kostis Chlouverakis mengungkapkan bahwa sebagian besar bank menghadapi kendala dalam membuktikan imbal hasil investasi (return on investment/ROI) AI. "Asisten AI lokal, otomatisasi alur kerja, atau proof of concept mungkin dapat meningkatkan produktivitas satu tim, tetapi ROI sulit diukur, ditingkatkan, dan dipertahankan jika proses di sekitarnya tidak diubah," tulis laporan EY tersebut.
Dalam lanskap baru yang disebut agentic banking, EY menyarankan perbankan untuk tidak menyerahkan seluruh operasional kepada satu sistem AI besar secara mentah-mentah. Sebaliknya, bank perlu mengadopsi jaringan agen AI mini yang terkoordinasi (bounded agents) untuk menangani tahapan spesifik, seperti verifikasi identitas, pemeriksaan dokumen KYC (Know Your Customer), analisis risiko media, hingga mitigasi kejahatan keuangan.
Skema tersebut menempatkan AI sebagai pengolah data dan pemberi rekomendasi, sedangkan kendali akhir, eskalasi risiko, dan persetujuan utama tetap berada di tangan tenaga kerja manusia. Tingkat otonomi AI dibagi ke dalam lima jenjang, mulai dari sekadar AI assistant pada jenjang pertama hingga autonomous decisioning pada jenjang kelima yang sangat dibatasi oleh regulasi.
Arsitektur Data Real-Time
Untuk mendukung keandalan operasional, bank membutuhkan arsitektur data real-time yang solid guna mencegah AI mengambil keputusan berdasarkan data kedaluwarsa. Selain itu, penggunaan data sintetis (synthetic data) juga didorong sebagai sarana gladi bersih (synthetic rehearsal) untuk menguji simulasi krisis, dampak risiko tail risk, dan skenario layanan sebelum produk resmi diluncurkan kepada nasabah.
Di sisi kepatuhan regulator, EY menekankan pentingnya penerimaan prinsip governance-as-code dan penggunaan AI decision flight recorder (kotak hitam keputusan AI). Sistem ini mencatat setiap histori perintah (prompt), versi model yang digunakan, sumber data, hingga jejak persetujuan manusia untuk menjamin bahwa seluruh keputusan AI dapat diaudit secara transparan sesuai standar internasional seperti ISO/IEC 42001.
Riset industri mencatat bahwa bank yang berhasil mengintegrasikan kerangka kerja tata kelola AI secara terstruktur mampu memangkas waktu proses (cycle time) hingga 40% sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional secara signifikan. Melalui kombinasi antara kecanggihan agen AI dan pengawasan manusia yang adaptif, sektor perbankan dapat menciptakan nilai tambah yang terukur tanpa mengorbankan perlindungan nasabah dan stabilitas sistem keuangan. ■
DIGIONARY:
● Agentic Banking: Konsep operasional perbankan yang memanfaatkan agen-agen AI otonom terkoordinasi untuk mengeksekusi langkah-langkah spesifik dalam alur kerja bisnis secara mandiri di bawah batasan aturan tertentu.
● Bounded Agent: Agen kecerdasan buatan yang dirancang untuk beroperasi secara terbatas pada tugas, data, dan tingkat otoritas tertentu sesuai dengan batasan kebijakan yang telah ditetapkan.
● Governance-as-Code: Praktik penerjemahan kebijakan tata kelola, aturan kepatuhan, dan batasan risiko langsung ke dalam kode pemrograman atau alur kerja otomatis sistem AI.
● Governed Intelligence: Kerangka integrasi AI yang menggabungkan kecanggihan otomatisasi dengan mekanisme tata kelola, pengawasan manusia, serta bukti keputusan yang dapat diaudit.
● Synthetic Rehearsal: Proses pengujian dan simulasi alur kerja atau produk perbankan baru menggunakan data buatan (synthetic data) dalam lingkungan digital yang terkendali sebelum diterapkan ke lingkungan nyata.