Senin, 28 Sep 2026 Digi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-InsuranceDigi-Lifestyle
Beranda › Digi-News
Digi-News

Pasar Halal Dunia Tembus US$2,6 Triliun, BI: Indonesia Jangan Cuma Jadi Penonton!

✍️ Nareswara Cakra Kusuma 🕒 27 Sep 2026
Indonesia berpeluang besar menjadi pemasok global sektor modest fashion, kuliner halal, dan pariwisata ramah Muslim dunia.
Indonesia berpeluang besar menjadi pemasok global sektor modest fashion, kuliner halal, dan pariwisata ramah Muslim dunia.

Bank Indonesia (BI) menegaskan peluang Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai produsen dan pemasok utama produk halal global di tengah nilai halal value chain dunia yang mencapai US$2,6 triliun.

 

DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Indonesia berpeluang besar menjadi pemasok global sektor modest fashion, kuliner halal, dan pariwisata ramah Muslim dunia.
■ Nilai halal value chain global menembus US$2,6 triliun, didukung populasi dua miliar umat Muslim dan konsumen non-Muslim.
■ Peringkat ekonomi syariah Indonesia turun ke posisi keempat dunia, memicu urgensi integrasi sektor keuangan dan industri halal.

 

Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya sebagai produsen sekaligus pemasok kebutuhan ekonomi syariah global. Pengembangan produk halal, modest fashion, pariwisata ramah Muslim, hingga layanan keuangan syariah menjadi fondasi utama untuk menguasai pasar internasional.

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa potensi ekosistem ekonomi syariah sangat luas seiring dengan populasi Muslim dunia yang mencapai sekitar dua miliar orang. Selain itu, produk berbasis prinsip syariah kini makin diminati oleh masyarakat non-Muslim secara universal.

"Potensinya memang sangat luas dengan populasi Muslim di dunia sekitar dua miliar orang, dan produk ini juga digemari oleh mereka yang non-Muslim kalau kita lihat secara universal," kata Destry dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2026 di Surabaya akhir pekan ini.

Destry menjelaskan bahwa nilai rantai nilai halal (halal value chain) dunia telah mencapai kisaran US$2,6 triliun berdasarkan data 2025 dan diproyeksikan terus mengalami peningkatan. Saat ini, Indonesia berada di peringkat keempat secara global dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Berdasarkan indikator sektoral, sektor halal food Indonesia menempati peringkat ketiga dunia, muslim-friendly travel posisi keenam, islamic finance posisi ketujuh, serta halal pharmaceuticals and cosmetics di peringkat keempat. Sementara itu, sektor islamic media themed and recreation berada di peringkat ketiga dunia.

Menurut Destry, keunggulan komparatif Indonesia telah teruji pada produk modest fashion dan makanan halal yang mampu menembus pasar non-Muslim seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia. "Walaupun mereka bukan negara Muslim, mereka sangat menghargai syariat-syariat yang ada dalam agama Islam," ujar Destry.

Meskipun memiliki basis produk unggulan yang kuat, posisi Indonesia dalam indikator umum ekonomi syariah global tergeser dari peringkat ketiga menjadi peringkat keempat. Di saat yang sama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina mulai aktif mengambil peran sebagai pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah regional.

Riset indikator ekonomi syariah global mencatat bahwa peningkatan daya saing suatu negara sangat bergantung pada integrasi antara sektor riil industri halal dan efisiensi intermediasi keuangan. Kehadiran pembiayaan syariah yang inklusif menjadi kunci utama akselerasi ekspansi pelaku usaha kecil dan menengah ke pasar ekspor.

Destry menekankan bahwa penguatan sektor keuangan syariah domestik menjadi krusial untuk menopang kapasitas produksi dan akses pasar para pelaku industri halal nasional. "Penguatan sektor keuangan dinilai penting untuk menopang ekspansi pelaku usaha dan industri halal Indonesia sehingga kapasitas produksi, pembiayaan, dan akses pasar dapat berkembang sejalan dengan permintaan global," kata Destry.

Melalui integrasi rantai pasok industri halal dan sistem keuangan syariah yang makin solid, Indonesia optimistis dapat mengoptimalkan nilai tambah dari ceruk pasar global yang terus berkembang. ■

DIGIONARY:

● Fesyar (Festival Ekonomi Syariah): Rangkaian kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia untuk mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di tingkat regional dan nasional.
● Halal Value Chain: Rangkaian proses nilai tambah industri halal dari hulu ke hilir, mencakup bahan baku, produksi, distribusi, hingga pemasaran.
● Islamic Finance: Sistem keuangan dan perbankan yang seluruh operasionalnya dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam (syariah).
● Modest Fashion: Tren dan gaya busana yang dirancang santun dan tertutup sesuai preferensi etika atau nilai keagamaan.
● Muslim-Friendly Travel: Layanan dan fasilitas pariwisata yang menyediakan kemudahan akses makanan halal, sarana ibadah, dan lingkungan yang ramah bagi wisatawan Muslim.

DP
Deddy H. Pakpahan
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update