Kamis, 15 Okt 2026 DIGI-PRODUCTDigi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-Insights
Breaking
Beranda › Digi-News
Digi-News

Jembatani Riset Kampus dan Industri, BTN Gelar Housingpreneur Batch 3 di ITB untuk Inovasi Perumahan

✍️ Deddy H. Pakpahan 🕒 14 Oct 2026
BTN gelar Housingpreneur Batch 3 di ITB untuk dorong inovasi perumahan nasional.
BTN gelar Housingpreneur Batch 3 di ITB untuk dorong inovasi perumahan nasional.

BTN gelar Housingpreneur Batch 3 di ITB untuk dorong inovasi perumahan nasional.

________________

DIGI-HIGHLIGHTS:

■ BTN gelar BTN Housingpreneur Batch 3 di ITB untuk ajak mahasiswa dan peneliti ciptakan inovasi perumahan yang terjangkau dan berkualitas.
■ Ekosistem perumahan libatkan 130 industri turunan, menuntut kolaborasi multidisiplin guna dukung target pembangunan 3 juta rumah dari pemerintah.
■ Inovasi Proteka perkuatan dinding anti-gempa dan pemanfaatan sampah plastik menjadi material bangunan jadi contoh sukses karya anak muda.
■ Pimpinan ITB sambut baik ajang ini sebagai jembatan untuk atasi jurang kematian riset kampus agar bisa diaplikasikan langsung oleh industri.

______________

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperkuat komitmennya dalam mendorong transformasi sektor properti nasional dengan merangkul kalangan akademisi. Melalui ajang BTN Housingpreneur Batch 3 yang dihelat di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Selasa (13/10), BTN mengajak mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk mengubah gagasan ilmiah menjadi solusi nyata bagi kebutuhan hunian masyarakat yang terjangkau dan berkualitas.

Regional Office Head BTN Kantor Wilayah Jawa Barat, Asvianti Handaru, mengungkapkan bahwa sektor perumahan jauh lebih luas dari sekadar konstruksi fisik dan penyediaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ekosistem perumahan sedikitnya melibatkan sekitar 130 industri turunan—mulai dari arsitektur, desain interior, material bangunan, metode konstruksi, teknologi digital, smart living, hingga pembiayaan dan prinsip keberlanjutan. Kompleksitas ini menuntut adanya kolaborasi lintas disiplin ilmu.

"Karena itu, pengembangan sektor perumahan membutuhkan kolaborasi dari berbagai bidang keahlian. Inilah yang menjadi salah satu landasan pengembangan BTN Housingpreneur yang kami perkenalkan di ITB," ujar Asvianti.

Ia menambahkan, program ini sekaligus menjadi instrumen strategis untuk mendukung target pemerintah dalam pembangunan 3 juta rumah. Tantangan utamanya bukan sekadar membangun hunian dalam jumlah besar, melainkan memastikan aspek keterjangkauan dan kualitas tetap terjaga. Oleh karena itu, BTN membuka ruang seluas-luasnya bagi sivitas akademika untuk menguji gagasan dari riset laboratorium atau tugas perkuliahan bersama para pelaku industri.

Ajang ini merujuk pada kesuksesan edisi sebelumnya, seperti inovasi "Proteka" yang dikembangkan oleh Zamzam Multazam pada ajang BTN Housingpreneur 2025. Proteka merupakan teknologi pelapis penguat dinding berbasis serat (fiber-reinforced coating) yang dirancang untuk meredam risiko kerusakan akibat gempa bumi tanpa perlu melakukan pembongkaran struktur secara masif. Teknologi ini terbukti telah diuji coba melalui proyek perkuatan bangunan sekolah di Lembang serta pengujian meja getar (shake table test).

Selain itu, BTN juga aktif mendorong pemanfaatan material ramah lingkungan melalui Program Rumah Rendah Emisi, yang menggandeng perusahaan rintisan (startup) pengolah sampah plastik rumah tangga—seperti Rebrick, Plustik, dan Green Brick—untuk diubah menjadi lantai, paving, serta dinding bangunan.

Apresiasi ITB untuk BTN

Langkah jemput bola yang dilakukan BTN ini mendapat apresiasi hangat dari jajaran pimpinan ITB. Direktur Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. apt. Muhamad Insanu, S.Si., M.Si., menilai kolaborasi erat antara institusi pendidikan tinggi dan sektor industri merupakan keniscayaan agar karya ilmiah tidak sekadar berakhir di atas kertas.

"Hal yang ingin saya garis bawahi adalah peran perguruan tinggi. Sudah saatnya hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai data atau publikasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat," terang Insanu.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Master dan Doktor Arsitektur SAPPK ITB, Dr. Eng. Ar. M Donny Koerniawan, S.T., M.T., IAI, menyoroti fenomena death valley atau jurang kematian dalam dunia akademik. Di mana banyak inovasi cemerlang dari kampus sering kali terhenti akibat keterbatasan dana, minimnya minat produsen, serta jarangnya akses jejaring industri.

"Saya melihat BTN Housingpreneur Batch 3 sebagai peluang yang sangat baik. BTN berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan mempertemukan akademisi, pelaku bisnis, dan produsen," ucap Donny.

Model Kemitraan Open Innovation

Inisiatif BTN melalui BTN Housingpreneur Batch 3 menunjukkan kalkulasi strategis mendalam bagi masa depan industri perbankan pembiayaan perumahan dan pengembangan ekosistem properti nasional. Ketergantungan pada metode konstruksi konvensional kerap membuat harga pokok penjualan (HPP) rumah subsidi sulit ditekan di tengah kenaikan harga tanah. Dengan merangkul riset material alternatif dan teknologi perkuatan gempa dari kampus, perbankan dapat membantu menekan risiko biaya perawatan jangka panjang bagi debitur KPR subsidi.

Selain itu, integrasi startup daur ulang sampah plastik (seperti Rebrick dan Plustik) ke dalam rantai pasok material konstruksi menunjukkan bagaimana institusi keuangan besar dapat memimpin transisi ekonomi sirkular. Hal ini sekaligus memperkuat portofolio pembiayaan hijau (green financing) bank di mata investor global.

Hambatan terbesar hilirisasi riset di Indonesia adalah absennya jembatan antara penemu teknologi dan eksekutor pasar. Kehadiran BTN sebagai fasilitator modal, jaringan, dan penguji pasar (market validator) memberikan nilai tambah transformatif bagi penciptaan hak kekayaan intelektual lokal di sektor perumahan. ■

_______________

DIGIONARY:

● BTN Housingpreneur: Ajang kompetisi dan inkubasi gagasan inovatif yang diinisiasi oleh Bank BTN untuk menjaring solusi kreatif di sektor perumahan dari kalangan akademisi, peneliti, dan masyarakat umum.
● Death Valley (Jurang Kematian Akademik): Istilah yang menggambarkan kondisi di mana hasil riset atau inovasi ilmiah gagal dikembangkan menjadi produk komersial karena kendala pendanaan dan ketiadaan akses industri.
● Proteka: Teknologi pelapis dinding berperekat serat (fiber-reinforced coating) yang berfungsi meningkatkan ketahanan struktur bangunan terhadap guncangan gempa bumi tanpa pembongkaran besar.
● Shake Table Test: Metode pengujian laboratorium menggunakan meja getar simulasi gempa untuk mengukur respons fisik dan tingkat ketahanan suatu struktur bangunan.
● Transit-Oriented Development / TOD: Konsep penataan kawasan perkotaan yang memadukan fungsi perumahan dan komersial dengan akses transportasi massal yang terintegrasi.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update