Kamis, 15 Okt 2026 DIGI-PRODUCTDigi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-Insights
Breaking
Beranda › Digi-Sharia
Digi-Sharia

BI: Preferensi Investor Global Bergeser, Surat Utang Syariah dan Green Sukuk Indonesia Diminati Asing

✍️ Nareswara Cakra Kusuma 🕒 14 Oct 2026
Gubernur BI Destry Damayanti sebut investor global kini bergeser minati instrumen keuangan syariah dan sukuk akibat adanya underlying asset.
Gubernur BI Destry Damayanti sebut investor global kini bergeser minati instrumen keuangan syariah dan sukuk akibat adanya underlying asset.

Surat utang syariah RI laris diburu asing, Bos BI sebut investor global bergeser ke sukuk.

____________

DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Gubernur BI Destry Damayanti sebut investor global kini bergeser minati instrumen keuangan syariah dan sukuk akibat adanya underlying asset.
■ Akumulasi Green Sukuk Indonesia di pasar global telah mencapai US$7,7 miliar serta Rp108,9 triliun di pasar domestik.
■ Produk sukuk diincar investor dari Amerika Serikat dan Eropa karena dinilai sebagai instrumen keuangan yang berkelanjutan.
■ Pembiayaan syariah domestik baru capai 20,29% dari total outstanding SBN pemerintah sebesar Rp8.962,39 triliun per 30 September 2026.

____________

Di tengah gelombang ketidakpastian yang melanda pasar keuangan global, instrumen keuangan syariah Indonesia mencatatkan tren positif yang signifikan. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengamati adanya perubahan orientasi penanaman modal di kalangan investor internasional yang kini semakin melirik surat utang syariah, khususnya sukuk.

Berbeda dengan instrumen konvensional, keberadaan aset atau proyek riil sebagai dasar penerbitan (underlying asset) menjadi nilai tambah utama yang menawarkan stabilitas lebih tinggi. Faktor fundamental inilah yang membuat produk keuangan syariah kian diminati oleh investor lintas negara, termasuk dari kawasan Amerika Serikat dan Eropa.

"Memang sekarang bergeser, banyak dari investor juga bergeser, dan biasanya produk keuangan syariah itu relatif stabil, karena dia punya underlying-nya," ungkap Destry saat memberikan sambutan dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta.

Permintaan Global Tinggi

Pemerintah Indonesia secara konsisten menangkap momentum tingginya permintaan global tersebut melalui penerbitan instrumen pembiayaan hijau berbasis syariah.

Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2018, akumulasi penerbitan Green Sukuk Indonesia di pasar internasional telah berhasil menyentuh angka US$7,7 miliar. Sementara itu, penetrasi di pasar domestik juga menunjukkan angka yang solid dengan nilai penerbitan mencapai Rp108,9 triliun.

Kendati demikian, ruang ekspansi bagi instrumen pembiayaan syariah di dalam negeri masih terbuka sangat luas. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 30 September 2026, total outstanding Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah tercatat sebesar Rp8.962,39 triliun. Dengan demikian, pencapaian pembiayaan syariah domestik yang sebesar Rp108,9 triliun baru mencakup sekitar 20,29% dari total keseluruhan outstanding SBN tersebut.

Melihat potensi pasar yang masih lapang serta tingginya minat investor institusional luar negeri yang memandang sukuk sebagai instrumen investasi berkelanjutan (sustainable), Bank Indonesia mendorong kementerian dan lembaga terkait untuk bersinergi melahirkan variasi produk keuangan syariah yang lebih dinamis dan kompetitif di masa mendatang.

Diversifikasi Basis Investor

Pergeseran minat investor global menuju instrumen Green Sukuk dan surat utang syariah nasional memberikan sejumlah implikasi strategis bagi manajemen fiskal dan ketahanan makroekonomi Indonesia.

Ketergantungan terhadap instrumen konvensional dapat dikurangi dengan memperluas penerbitan sukuk global. Investor institusi global dari AS dan Eropa yang menjunjung prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) menjadikan Green Sukuk sebagai instrumen lindung nilai yang aman di tengah volatilitas suku bunga global.

Dengan porsi pembiayaan syariah domestik yang baru mencapai 20,29% dari total outstanding SBN Rp8.962,39 triliun, pemerintah memiliki ruang fiskal yang sangat luas untuk memperbesar porsi penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) guna membiayai proyek infrastruktur strategis berwawasan lingkungan secara mandiri.

Keberadaan proyek fisik nyata dalam struktur sukuk memberikan keyakinan struktural bagi pasar bahwa likuiditas yang dihimpun terserap secara produktif, meminimalkan risiko spekulasi pasar uang jangka pendek. ■

________

DIGIONARY:

● Green Sukuk: Instrumen surat berharga syariah yang diterbitkan khusus untuk membiayai proyek-proyek ramah lingkungan dan berkelanjutan (green projects).
● Outstanding SBN: Jumlah total sisa kewajiban pembayaran Surat Berharga Negara yang masih beredar dan belum jatuh tempo pada periode waktu tertentu.
● Sukuk: Efek syariah berupa bukti kepemilikan bersama yang bernilai sama dan tidak bersyarat atas aset, hak manfaat, atau jasa tertentu.
● Underlying Asset: Aset berwujud, proyek, atau kegiatan investasi yang menjadi dasar hukum dan penopang penerbitan suatu instrumen surat utang atau sukuk.

DP
Deddy H. Pakpahan
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update