Hadapi Ketidakpastian Makro Global, DBS CIO Dorong Rotasi Saham Teknologi dan Penguatan Aset Alternatif
Laporan pandangan investasi DBS Chief Investment Office (CIO) Kuartal IV/2026 merekomendasikan strategi alokasi portofolio yang terukur dan terdiversifikasi guna menghadapi inflasi persisten serta tingginya imbal hasil obligasi global. Investor disarankan untuk memperluas rotasi portofolio dari porsi saham teknologi murni menuju emiten pengguna kecerdasan buatan (AI adopters) yang mampu mencetak margin arus kas nyata tanpa beban belanja modal (capex) besar.
__________
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ DBS CIO menyarankan rotasi portofolio dari porsi saham teknologi murni menuju emiten AI adopters yang efisien secara belanja modal.
■ Sektor obligasi memprioritaskan korporasi berperingkat BBB/BB tenor 5–7 tahun untuk menghindari risiko beban utang emiten kelas AA.
■ Aset alternatif seperti emas dan private credit direkomendasikan overweight guna memperkuat ketahanan portofolio investasi global.
Memasuki kuartal IV/2026, lanskap investasi global dihadapkan pada titik krusial yang ditandai oleh inflasi yang persisten, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah, serta eskalasi ketegangan geopolitik. Kendati demikian, ketahanan laba korporasi dan siklus belanja modal (capital expenditure/capex) di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dinilai masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Laporan terbaru dari DBS Chief Investment Office (CIO) menegaskan bahwa alih-alih menarik diri dari pasar modal, investor disarankan untuk menjaga keseimbangan portofolio melalui strategi diversifikasi lintas kelas aset. Secara khusus, DBS CIO menyoroti pentingnya merotasi fokus investasi ke luar kelompok terbatas saham teknologi utama (hyperscalers).
Penguatan Merata di Pasar Saham
Pergeseran fokus pasar kini memasuki fase penciptaan nilai baru. Pasar saham mulai memperlihatkan penguatan yang lebih merata ke sektor keuangan, kesehatan, dan energi, sementara sektor teknologi mengalami konsolidasi. DBS CIO merekomendasikan pendekatan barbell pada saham berbasis AI, yakni mempertahankan eksposur pada emiten penyedia infrastruktur AI sekaligus menambah alokasi pada perusahaan pengguna AI (AI adopters) yang sanggup mengoptimalkan efisiensi operasional menjadi pertumbuhan pendapatan tanpa beban capex tinggi.
Di pasar Surat Berharga Negara dan obligasi korporasi, tren suku bunga tinggi dalam jangka panjang (higher for longer) diperkirakan masih bertahan. Peningkatan beban utang pemerintah untuk menutup defisit anggaran serta pinjaman masif emiten teknologi berperingkat AA memicu persaingan ketat dalam perebutan likuiditas pasar modal.
Kondisi tersebut mengikis daya tarik obligasi berperingkat teratas. DBS CIO merekomendasikan strategi penetapan durasi moderat pada rentang 5 hingga 7 tahun, dengan mengalihkan preferensi kredit ke penerbit berperingkat BBB/BB yang memiliki arus kas bebas (free cash flow) solid serta kapasitas utang yang terkendali. Portofolio Surat Berharga Negara juga disarankan diperkuat oleh instrumen Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) serta agency mortgage-backed securities (MBS).
Untuk meredam potensi penurunan nilai portofolio tradisional (drawdown risk), alokasi pada aset alternatif dinaikkan ke posisi overweight. Aset emas diperkirakan terus mendapat dukungan positif dari akselerasi pembelian bank sentral, tingginya permintaan fisik dari Asia, serta tren pelindungan nilai mata uang (debasement trade).
Sementara itu di pasar modal privat (private markets), peluang imbal hasil dinilai menarik pada instrumen pinjaman senior beragunan (senior secured loans), pembiayaan berbasis aset (asset-backed finance), serta transaksi pasar sekunder (secondaries).
Fokus Pengendalian Inflasi
DBS CIO memproyeksikan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) tetap berfokus pada pengendalian inflasi dengan potensi dua kali kenaikan suku bunga acuan hingga mencapai puncaknya di level 4,5% pada awal 2027. Di kawasan Asia di luar Jepang (Asia ex-Japan), prospek pasar saham dipertahankan overweight berkat kuatnya ekspor teknologi dan integrasi rantai pasok manufaktur regional.
__________
DIGIONARY:
● AI Adopters: Perusahaan atau lembaga yang mengintegrasikan solusi kecerdasan buatan ke dalam alur kerja operasional untuk meningkatkan produktivitas dan margin keuntungan.
● Barbell Strategy: Strategi investasi yang membagi portofolio secara seimbang antara aset berisiko rendah dan aset berisiko tinggi guna mengoptimalkan hasil imbal jasa.
● Debasement Trade: Strategi investasi dengan mengumpulkan aset riil seperti emas untuk mengantisipasi penurunan daya beli mata uang akibat pembengkakan utang pemerintah.
● Free Cash Flow: Sisa kas bersih yang dihasilkan perusahaan setelah memperhitungkan pengeluaran operasional dan belanja modal untuk pengembangan bisnis.
● Hyperscaler: Perusahaan teknologi berskala masif yang menyediakan infrastruktur komputasi awan dan pemrosesan data berskala besar.
● Private Credit: Penyaluran pinjaman atau instrumen utang non-bank yang diberikan oleh lembaga keuangan non-publik langsung kepada korporasi.
● Term Premium: Kompensasi imbal hasil tambahan yang dituntut investor atas risiko memegang obligasi berjangka panjang dibandingkan instrumen jangka pendek.