Ancaman Baru Agentic AI: Interpol Peringatkan Risiko Kejahatan Siber Berdampak Fisik
Interpol beri peringatan darurat: AI tingkatkan skala dan kecepatan kejahatan siber global. Waspadai risiko agentic AI pada infrastruktur fisik.
__________
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Interpol menegaskan pemanfaatan AI oleh peretas melipatgandakan kecepatan serangan siber dengan mengeksploitasi teknik penipuan lama.
■ Ancaman agentic AI berpotensi memicu kerusakan fisik secara nyata akibat kesalahan pengambilan tindakan otomatis pada perangkat terhubung.
■ Banyak dewan direksi perusahaan belum menempatkan keamanan siber sebagai prioritas, padahal seluruh industri kini berbasis teknologi informasi.
_________
Organisasi Kepolisian Kriminal Internasional (Interpol) menerbitkan peringatan mendesak terkait eskalasi ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Teknologi AI dinilai telah meningkatkan skala, jangkauan, dan kecepatan taktik kejahatan siber yang sudah ada secara signifikan.
Global Chief Information Security Officer Interpol, Bjorn R. Watne, menjelaskan bahwa kehadiran AI lebih berfungsi mempercanggih serta mempercepat teknik kejahatan siber lama ketimbang menciptakan jenis peretasan yang sama sekali baru.
Pemanfaatan AI memungkinkan pelaku penipuan menargetkan ribuan korban secara simultan. Pada saat yang sama, pemanduan teknologi penerjemah otomatis dan pemalsuan identitas digital (deepfake) menyulitkan masyarakat membedakan interaksi asli dari kejahatan.
"Ini adalah sebuah evolusi dan bukan revolusi," kata Watne mengutip CNBC.
Perlindungan Aset Digital
Seiring bergesernya lanskap ancaman tersebut, Interpol mendesak korporasi untuk memprioritaskan langkah perlindungan aset digital mereka.
Watne menyarankan manajemen perusahaan memetakan aset paling krusial bagi kelangsungan operasional bisnis terlebih dahulu, lalu mengidentifikasi pihak yang berpotensi melakukan peretasan.
Langkah proteksi dilanjutkan dengan memanfaatkan sistem intelijen ancaman (threat intelligence) guna memahami teknik musuh dan menyesuaikan sistem pertahanan internal secara terukur.
"Perusahaan tidak perlu berusaha melindungi diri dari segala ancaman secara bersamaan jika bukan target dari ancaman tersebut," ujarnya.
Watne menambahkan, skema pertahanan yang dibutuhkan tiap entitas dapat berbeda, tergantung pada apakah perusahaan menghadapi penjahat oportunistik biasa atau ancaman persisten tingkat tinggi (advanced persistent threats).
Strategi Keamanan Siber
Namun, salah satu kendala utama perlindungan siber saat ini adalah kurangnya keselarasan antara strategi keamanan siber dan manajemen senior.
"Masih banyak industri belum menyadari bahwa saat ini tiap perusahaan pada dasarnya adalah perusahaan TI," tambah Watne.
Meski risiko siber terus menempati posisi teratas dalam peta risiko bisnis global, isu keamanan siber kerap belum menjadi agenda prioritas di tingkat dewan direksi pada banyak perusahaan.
Interpol secara khusus memberikan sorotan tajam pada munculnya agentic AI—sistem AI yang dirancang bertindak secara otonom untuk mengambil keputusan atas nama pengguna. Berbeda dengan model AI generatif yang sebatas memproses teks atau informasi, kesalahan sistem pada agentic AI dapat langsung berdampak pada dunia fisik.
"Memberikan informasi yang salah itu satu hal. Namun, ketika AI benar-benar menjalankan suatu tindakan dan mulai melakukan kesalahan, terutama di ranah fisik, hal tersebut dapat berisiko mencelakai fisik manusia," cetusnya.
Watne mencontohkan integrasi agentic AI pada kendaraan otonom (autonomous vehicles) dan sistem kendali industri sebagai bidang yang sangat mengkhawatirkan. Risiko tersebut diperparah oleh tingkat kepercayaan publik yang relatif tinggi terhadap adopsi teknologi baru. Masyarakat cenderung bersikap adaptif tanpa kehati-hatian yang sama seperti saat mengelola transaksi keuangan, seperti menjaga PIN atau mewaspadai pencurian data kartu (skimming).
"Terkait teknologi, tingkat kepercayaan masyarakat sangatlah tinggi," kata Watne.
Kondisi ini tecermin dari kebiasaan pengguna yang dengan mudah mengeklik notifikasi serta memberikan izin akses data pada aplikasi berbasis AI. Interpol menegaskan bahwa seiring makin otonomnya AI dalam mengeksekusi instruksi, kecenderungan masyarakat untuk langsung percaya tanpa verifikasi harus segera diawasi secara lebih ketat.
Peringatan Interpol ini selaras dengan temuan Global Cybersecurity Outlook dari World Economic Forum (WEF), yang mencatat bahwa lebih dari 70% organisasi global menganggap AI meningkatkan kerentanan siber mereka. Di Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mencatat peningkatan serangan siber bermodus phishing berbasis AI, di mana penipu memanfaatkan bahasa yang sangat natural untuk mengecoh korbannya secara masif. ■
___________
DIGIONARY:
● Advanced Persistent Threats: Serangan siber terencana dan berkelanjutan yang dilancarkan oleh kelompok peretas profesional untuk mencuri data sensitif dalam jangka panjang.
● Agentic AI: Sistem kecerdasan buatan otonom yang dapat membuat keputusan dan mengeksekusi tindakan mandiri tanpa campur tangan manusia secara langsung.
● Deepfake: Teknologi kecerdasan buatan yang digunakan untuk merekayasa atau memalsukan gambar, suara, dan video agar menyerupai wujud asli seseorang.
● Phishing: Metode penipuan siber yang bertujuan mencuri informasi sensitif seperti kata sandi atau data perbankan melalui komunikasi palsu.
● Skimming: Tindakan kejahatan pencurian data informasi kartu debit atau kredit dengan cara menempelkan alat perekam khusus pada mesin ATM atau EDC.
● Threat Intelligence: Informasi terstruktur yang dikumpulkan dan dianalisis untuk memahami niat, kapabilitas, dan taktik pelaku serangan siber.
