Riset PwC: Gen Alpha Mulai Setir Keputusan Belanja Rumah Tangga
Survei PwC menunjukkan Generasi Alpha (anak-anak usia 7–14 tahun) mulai memegang peranan kunci dalam keputusan belanja keluarga melalui pemanfaatan perangkat digital dan media sosial.
___________
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Gen Alpha mulai bertindak sebagai penentu belanja rumah tangga dengan 97% anak terlibat aktif memilik produk secara mandiri.
■ Media sosial seperti YouTube dan TikTok menjadi pengaruh utama perilaku konsumsi anak, mengalahkan pengaruh dari teman sebaya.
■ Riset mencatat adanya perbedaan persepsi yang signifikan antara aktivitas belanja mandiri anak dan tingkat pengetahuan orang tua.
____________
Perilaku konsumsi rumah tangga global mengalami pergeseran signifikan seiring meningkatnya peran anak-anak Generasi Alpha (lahir tahun 2010–2024) dalam menentukan keputusan belanja keluarga. Anak-anak berusia 7 hingga 14 tahun kini tidak lagi sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan terlibat aktif dalam mencari informasi produk, memilih barang, hingga mengoperasikan aplikasi belanja secara mandiri.
Fenomena tersebut terungkap dalam laporan riset teranyar PriceWaterhouseCoopers (PwC) bertajuk Generation Alpha Survey 2026: The Youngest Chief Influence Officers. Survei yang dilakukan terhadap 1.004 anak usia 7–14 tahun dan 1.009 orang tua di Amerika Serikat ini mencatat bahwa 97% anak mengaku ikut menentukan barang yang dibeli oleh keluarga, setidaknya dalam beberapa kesempatan.
Masifnya Penetrasi Perangkat Digital
Evolusi peran ini didorong oleh penetrasi perangkat digital yang masif di kalangan anak usia sekolah. Data PwC menunjukkan bahwa 70% anak usia 7–14 tahun telah memiliki komputer tablet sendiri, sementara 72% menggunakan smartphone secara rutin. Kepemilikan smartphone tercatat meningkat tajam seiring bertambahnya usia, bergerak dari 46% pada kelompok usia 7–9 tahun menjadi 89% pada kelompok usia 13–14 tahun.
Aksesibilitas perangkat tersebut membuka jalan bagi Gen Alpha untuk terhubung langsung dengan ekosistem e-commerce. Pola interaksi digital anak-anak ini bervariasi, mulai dari anak usia 7 tahun yang sudah menentukan merek produk makanan pilihan, anak usia 11 tahun yang menambahkan produk perawatan diri ke keranjang belanja daring orang tua, hingga remaja usia 13 tahun yang memesan makanan melalui aplikasi pesan-antar.
Perilaku belanja Gen Alpha juga sangat dipengaruhi oleh paparan media sosial. Sebanyak 61% responden anak menyatakan tertarik membeli suatu produk setelah melihatnya di media sosial. Angka penentu keputusan ini melampaui pengaruh teman sebaya yang tercatat sebesar 56%, aktivitas melihat barang langsung di toko (53%), serta tayangan televisi (48%).
Platform YouTube Dominan
Platform YouTube menjadi saluran digital yang paling rutin diakses oleh Gen Alpha dengan tingkat penggunaan mencapai 68%, disusul platform gim (54%), dan layanan streaming (49%). Sementara itu, penggunaan aplikasi TikTok meningkat pesat pada kelompok usia yang lebih tua, dari 21% pada rentang usia 7–9 tahun menjadi 46% pada kelompok usia 13–14 tahun.
Kategori barang yang paling banyak dibeli atau diminta oleh Gen Alpha mencakup makanan dan minuman (72%), mainan (57%), serta pakaian (55%). Selain barang fisik, konsumsi produk digital juga mencatatkan porsi besar, di mana 53% anak membeli aplikasi atau unduhan satu kali, 42% melakukan transaksi di dalam gim (in-game purchase), dan 34% membeli layanan berlangganan.
"Anak-anak zaman sekarang berani menyuarakan pendapat mereka, dan orang tua pun mendengarkan," tulis tim peneliti PwC dalam laporan resmi tersebut.
Menariknya, riset ini menemukan jurang perbedaan persepsi antara aktivitas nyata anak dan tingkat pemahaman orang tua. Sebanyak 24% anak mengaku pernah memesan barang secara mandiri melalui aplikasi belanja, tetapi hanya 19% orang tua yang menyadarinya. Pada layanan pesan-antar makanan, 25% anak menyatakan pernah memesan sendiri, sementara orang tua yang mengetahui aktivitas tersebut hanya sebesar 14%—menunjukkan selisih persepsi hingga 11 poin persentase. Perbedaan serupa terjadi pada kategori produk perawatan kulit dan kecantikan, di mana 81% anak merasa memiliki pengaruh dalam pembelian, tetapi hanya 61% orang tua yang mengamininya.
Tren Kemandirian Finansial
Meski demikian, dukungan finansial utama tetap bersumber dari orang tua. Sebanyak 60% anak menyatakan belanjaan mereka dibayarkan oleh orang dewasa. Namun, tren kemandirian finansial dini mulai terlihat: 86% anak mengaku memperoleh uang sendiri, terutama dari penyelesaian pekerjaan rumah tangga (chores) sebesar 65% dan imbalan atas prestasi akademik atau olahraga sebesar 50%. Pada kelompok usia 13–14 tahun, sebanyak 51% anak rutin menerima uang lebih dari US20 (sekitar Rp357.770 dengan asumsi kurs Rp17.888 per US) per minggu.
Penguatan peran ekonomi Gen Alpha ini sejalan dengan temuan riset global McKinsey & Company tentang perubahan perilaku konsumen antar-generasi, yang mencatat bahwa integrasi teknologi sejak dini mempercepat proses kedewasaan digital (digital maturity) anak-anak. Hal ini menjadikan Gen Alpha sebagai kelompok konsumen yang tidak hanya memengaruhi belanja orang tua saat ini, tetapi juga membentuk standar baru bagi strategi pemasaran ritel global di masa depan. ■
___________
DIGIONARY:
● Commerce: Aktivitas jual beli barang atau jasa yang mencakup seluruh proses transaksi dan pertukaran nilai.
● E-commerce: Sistem perdagangan barang dan jasa yang dilakukan secara elektronik melalui jaringan internet.
● Gen Alpha: Kelompok demografi manusia yang lahir dari rentang tahun 2010 hingga pertengahan 2020-an.
● In-Game Purchase: Transaksi pembelian item, fitur, atau konten tambahan digital yang dilakukan di dalam sebuah aplikasi gim.
● PwC: Network jasa profesional global yang menyediakan layanan audit, konsultasi pajak, dan penasihat bisnis.
● Smartphone: Telepon genggam canggih yang dilengkapi dengan sistem operasi dan kemampuan komputasi layaknya komputer.
● Streaming: Metode pengiriman data audio atau video secara langsung dan berkelanjutan melalui koneksi internet tanpa perlu mengunduh berkas secara utuh.
