Selasa, 29 Sep 2026 Digi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-InsuranceDigi-Lifestyle
Beranda › Digi-Insurance
Digi-Insurance

Kekayaan Berisiko Lenyap di Generasi Kedua, Sun Life Soroti Kesiapan Ahli Waris dan Risiko Konflik

✍️ Raras Aivani Kusumendri 🕒 28 Sep 2026
Di Indonesia, 58% responden menyebut konflik keluarga dan 53% menggarisbawahi kesiapan mengelola aset sebagai risiko utama warisan.
Di Indonesia, 58% responden menyebut konflik keluarga dan 53% menggarisbawahi kesiapan mengelola aset sebagai risiko utama warisan.

Studi terbaru Sun Life Asia bertajuk Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money menunjukkan pergeseran paradigma perencanaan warisan di Asia, di mana kesiapan generasi penerus mengelola aset kini menjadi perhatian utama melebihi kekhawatiran perubahan pasar. Riset mencatat 70% responden khawatir kekayaannya tidak bertahan hingga generasi berikutnya, sementara di Indonesia, 58% responden menyebut konflik keluarga dan 53% mengidentifikasi ketidaksiapan ahli waris sebagai ancaman terbesar. 

__________

DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Studi Sun Life Asia mencatat 70% masyarakat khawatir kekayaannya tak bertahan ke generasi penerus akibat ketidaksiapan ahli waris.
■ Di Indonesia, 58% responden menyebut konflik keluarga dan 53% menggarisbawahi kesiapan mengelola aset sebagai risiko utama warisan.
■ Keluarga beraset tinggi (high-net-worth) makin membutuhkan penasihat keuangan independen untuk mengelola investasi lintas negara.

__________

Tren perencanaan warisan di kawasan Asia mengalami pergeseran mendasar. Menjaga keberlanjutan kekayaan keluarga kini tidak lagi sebatas memindahkan aset fisik atau uang tunai, melainkan memastikan kesiapan mental dan finansial generasi penerus dalam mengelolanya.
Laporan riset terbaru Sun Life Asia bertajuk Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money mengungkapkan bahwa 70% responden di Asia merasa khawatir kekayaan mereka tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya. Meskipun kesadaran membuat perencanaan tertulis meningkat dua kali lipat menjadi 22% pada 2026, hanya 20% responden yang mengaku benar-benar siap mewariskan aset mereka saat ini.

Di Indonesia, sebesar 58% responden yang mengkhawatirkan keberlanjutan kekayaan menunjuk konflik internal keluarga sebagai ancaman terbesar. Selain faktor perselisihan, sebanyak 53% responden menilai ketidaksiapan penerima warisan dalam mengelola aset sebagai risiko utama, disusul oleh perubahan regulasi perpajakan (46%) dan dinamika kondisi pasar (43%).

Rencana Warisan Keluarga

Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menekankan pentingnya komunikasi terbuka serta pendampingan profesional dalam menyusun rencana warisan keluarga.

"Perencanaan warisan tidak cukup hanya dengan dituangkan secara tertulis. Keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dari kekayaan yang diwariskan, prinsip yang menjadi panduan dalam mengelolanya, serta bagaimana generasi berikutnya dapat meneruskan tanggung jawab tersebut. Dengan begitu, rencana yang tertulis dapat benar-benar diterapkan dan bertahan dari generasi ke generasi," ujar Albertus.

Albertus menambahkan bahwa bagi keluarga dengan tingkat kekayaan tinggi (high-net-worth), tantangan utama bergeser dari sekadar menghindari perselisihan domestik menuju pengelolaan kompleksitas investasi dan kepastian hukum.

Bagi keluarga dengan kekayaan tinggi, menjaga kekayaan tidak hanya tentang menghindari konflik keluarga. Kepercayaan terhadap berbagai keputusan yang menentukan keberlanjutan kekayaan tersebut, mulai dari investasi hingga bagaimana kekayaan dipersiapkan untuk generasi berikutnya, juga sama pentingnya. 

"Karena itu, peran penasihat yang tepercaya menjadi sangat penting. Keluarga semakin membutuhkan penasihat yang dapat menghadirkan keahlian yang tepat, membantu menghadapi berbagai kompleksitas, serta mendukung mereka dalam mengambil keputusan yang tepat, baik lintas negara maupun lintas generasi," kata Albertus.

Persepsi Masyarakat Soal Warisan

Menariknya, persepsi masyarakat Indonesia terhadap makna warisan kini menempatkan faktor non-materiil di posisi teratas. Sebanyak 65% responden di Indonesia menempatkan kesempatan pendidikan sebagai salah satu dari tiga prioritas utama yang ingin diwariskan. Bahkan, dari kelompok yang berencana membagikan aset finansial, 61% di antaranya mengalokasikan dana tersebut khusus untuk membiayai pendidikan generasi penerus.

Studi ini juga menemukan bahwa pelibatan penasihat keuangan profesional terbukti meningkatkan kesiapan keluarga. Responden yang memanfaatkan pendampingan profesional mencatatkan tingkat kesiapan finansial mencapai 79%, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok yang belum berkonsultasi dengan penasihat keuangan (44%). ■

__________

DIGIONARY:

● High-Net-Worth Individuals (HNWI): Individu atau keluarga yang memiliki aset finansial cair berskala tinggi dan memerlukan pengelolaan kekayaan khusus.
● Legacy Planning: Proses terstruktur untuk mengatur pemindahtanganan aset, nilai-nilai keluarga, dan tanggung jawab finansial kepada generasi berikutnya.
● Passing the Torch: Istilah simbolis untuk penyerahan kepemimpinan, aset, dan tanggung jawab pengelolaan kekayaan dari satu generasi ke generasi penerus.
● Wealth Advisory: Layanan konsultasi profesional yang mencakup perencanaan keuangan, pengelolaan portofolio investasi, serta tata kelola warisan lintas negara.

 

 

 

DP
Deddy H. Pakpahan
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update