Sabtu, 10 Okt 2026 DIGI-PRODUCTDigi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-Insights
Breaking
Beranda › Digi-Crypto
Digi-Crypto

Riset Visa: 46% Konsumen Asia-Pasifik Berpeluang Gunakan Stablecoin untuk Transaksi Harian

✍️ Deddy H. Pakpahan 🕒 09 Oct 2026
Riset Visa sebut 46% konsumen Asia-Pasifik bakal pakai stablecoin dalam 5 tahun.
Riset Visa sebut 46% konsumen Asia-Pasifik bakal pakai stablecoin dalam 5 tahun.

Riset Visa sebut 46% konsumen Asia-Pasifik bakal pakai stablecoin dalam 5 tahun. Simak analisis hambatan fraud, literasi, dan regulasi MAS Singapura.

____________

DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Riset Visa mengungkapkan 46% konsumen Asia-Pasifik berencana menggunakan stablecoin dalam lima tahun, jauh di atas tingkat adopsi saat ini (16%).
■ Sebanyak 49% responden menganggap stablecoin sebagai instrumen efisien untuk pengiriman uang dan remitansi internasional.
■ Meskipun kesadaran publik mencapai 66%, hanya 6% konsumen yang memahami cara kerja stablecoin secara akurat, sementara 38% khawatir penipuan.

___________

Lanskap transaksi pembayaran digital di kawasan Asia-Pasifik tengah mengalami transformasi fundamental. Aset digital stablecoin—token berpatokan nilai mata uang fiat seperti US$—mulai dipandang oleh masyarakat konsumen sebagai sarana pembayaran harian, menggantikan persepsi lamanya sebagai instrumen spekulasi perdagangan kripto.

Survei terbaru Visa Consumer 360 yang melibatkan 14.250 responden berusia 18 hingga 65 tahun di 14 pasar kawasan Asia-Pasifik merekam bahwa 46% konsumen menyatakan berpeluang menggunakan stablecoin dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Angka ini mencerminkan lonjakan ekspektasi yang tinggi jika dibandingkan dengan tingkat penggunaan aktual selama 12 bulan terakhir yang baru mencatatkan angka 16%.

Aspirasi penggunaan stablecoin kini meluas ke sektor belanja daring, alokasi pengeluaran perjalanan wisata (travel spending), hingga transaksi pembayaran lintas negara (cross-border). Dalam segmen pengiriman uang antarnegara, sebanyak 49% responden meyakini bahwa stablecoin berpotensi menjadi metode standar untuk pengiriman remitansi internasional.

Dari sisi pemetaan kawasan, Hong Kong (84%), India (80%), dan Thailand (77%) mencatatkan tingkat kesadaran (awareness) tertinggi terhadap stablecoin. Sementara itu, minat adopsi (intent to use) tertinggi dalam lima tahun mendatang tercatat di Vietnam dan India yang masing-masing menyentuh angka 67%.

"Kami melihat pergeseran bermakna dalam cara konsumen di Asia-Pasifik memandang stablecoin," ujar Head of Digital Currencies Visa Asia-Pasifik, Nischint Sanghavi, mengutip Fintech News Singapura. "Konsumen mulai memahami bagaimana stablecoin dapat mendukung cara mereka membelanjakan dan memindahkan uang, terutama melalui pembelian online, perjalanan, dan transfer lintas negara."

Jurang Pemahaman dan Hambatan Keamanan

Kendati tingkat kesadaran publik kawasan terhadap stablecoin tergolong tinggi di angka 66%, riset Visa menemukan adanya jurang pemahaman teknis (knowledge gap) yang signifikan. Hanya 6% responden yang menunjukkan pemahaman akurat mengenai mekanisme kerja stablecoin.

Di antara kelompok responden yang mengetahui stablecoin, sebanyak 49% secara keliru menganggap aset tersebut hanya dapat digunakan untuk jual-beli kripto lain. Selain itu, 41% responden meyakini bahwa nilai stablecoin akan selalu mengalami kenaikan harga (capital gain).

Ketiadaan pemahaman mutakhir dan ancaman kejahatan siber menjadi faktor utama yang menahan laju penetrasi. Dari kelompok konsumen yang mengenal stablecoin tetapi belum pernah bertransaksi, sebesar 38% menunjuk kecemasan atas kejahatan penipuan (fraud) atau scam sebagai alasan utama, sedangkan 36% menggarisbawahi minimnya literasi informasi.

Guna mengatasi isu kepercayaan tersebut, konsumen menaruh harapan tinggi pada entitas formal teregulasi. Responden menempatkan tingkat kepercayaan tertinggi pada lembaga yang terafiliasi dengan pemerintah atau bank sentral (27%), disusul oleh bank konvensional dan institusi keuangan terdaftar (26%).

"Konsumen menginginkan stablecoin terasa sebagai bagian alami dari sistem pembayaran yang telah mereka percayai, bukan sebagai sistem terpisah," kata Sanghavi. "Peran kami adalah menghubungkan teknologi stablecoin yang sedang berkembang ini dengan pengalaman pembayaran yang aman dan familiar yang diandalkan konsumen setiap hari."

Sebagai tindak lanjut strategis, Visa memperluas kolaborasi dengan perbankan dan mitra pembayaran melalui integrasi infrastruktur Visa Stablecoin Platform, yang mulai diuji coba secara terbatas sejak Juli lalu untuk penerbitan, pemindahan, dan pengelolaan token secara terukur.

Di tingkat regulator, Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) saat ini tengah menyelenggarakan konsultasi publik atas amandemen Payment Services Act. Kerangka regulasi ini akan memberikan kekuatan hukum bagi penerbit stablecoin yang memenuhi kualifikasi ketat untuk menyandang label resmi MAS-regulated stablecoins, di mana tenggat masukan dibuka hingga 16 Oktober 2026.

Penataan regulasi yang makin terstruktur di Singapura selaras dengan arah kebijakan global dari Financial Stability Board (FSB) yang menekankan perlunya pengawasan ketat terhadap cadangan aset (asset backing) penerbit stablecoin guna menjamin stabilitas sistem pembayaran internasional.

__________

DIGIONARY:

● Payment Services Act: Kerangka undang-undang dan regulasi yang mengatur penyedia jasa pembayaran dan transaksi nilai digital di Singapura.
● Remitansi: Layanan pengiriman uang atau pemindahan dana yang dilakukan oleh pekerja luar negeri ke negara asalnya secara lintas batas.
● Stablecoin: Jenis token kripto yang nilainya dipatok pada aset stabil seperti mata uang fiat US$ untuk menjaga kepastian nilai transaksi.
● Visa Consumer 360: Studi riset pasar komprehensif yang diselenggarakan Visa untuk memetakan tren perilaku, literasi, dan preferensi konsumen finansial global.
● Visa Stablecoin Platform: Infrastruktur teknologi jaringan pembayaran yang dirancang untuk membantu lembaga keuangan menerbitkan, memindahkan, dan mengelola token stablecoin.

 

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update