Perbankan Ubah Fokus AI MenujuPendapatan, Ant Digital Dorong Model Agent Factory
Industri perbankan global dan Asia Tenggara mulai menggeser fokus adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dari sekadar efisiensi biaya menuju strategi peningkatan pendapatan (revenue generation) serta kejelasan imbal hasil investasi (Return on Investment/ROI).
_____________
DIGI-HIGHLIGHTS:
■ Bank geser prioritas adopsi AI dari efisiensi biaya ke peningkatan pendapatan (revenue generation) dan kejelasan imbal hasil (ROI).
■ Kualitas data internal yang buruk menjadi penyebab utama kegagalan implementasi AI perbankan dari fase pilot ke produksi.
■ Ant Digital sediakan platform Commercial Agent Super Factory untuk penggelaran puluhan agen AI otonom lintas fungsi perbankan.
■ GCash tingkatkan sistem eKYC ZOLOZ pada 2026 dengan fitur anti-deepfake untuk halangi pemalsuan identitas berbasis biometrik digital.
_______________
Pergeseran mendasar tengah terjadi di ruang direksi lembaga keuangan global. Jika satu atau dua tahun lalu para eksekutif bank sibuk bertanya bagaimana kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bisa memangkas biaya operasional dan mempercepat kerja karyawan, sejak awal 2026 fokus percakapan berbalik arah secara tajam. Para eksekutif kini menuntut bukti konkret imbal hasil investasi (Return on Investment/ROI) melalui kontribusi AI terhadap pertumbuhan pendapatan (revenue generation).
Perubahan orientasi ini berdampak besar pada peta inklusi keuangan, khususnya di pasar-pasar berkembang Asia Tenggara. Berdasarkan data Bank Sentral Filipina (Bangko Sentral ng Pilipinas/BSP), proporsi penduduk dewasa pemilik akun keuangan formal melesat hingga 58% pada kuartal I/2026 dari posisi 48% pada periode sama tahun sebelumnya, terutama dipicu oleh penetrasi dompet digital (e-wallet).
Garry Sien, Chief Innovation and Solutions Officer International Business Ant Digital Technologies, mengungkapkan bahwa perpindahan prioritas ini memaksa perbankan meninjau ulang strategi teknologi mereka.
"Sejak awal 2026, tingkat minat tersebut telah berayun ke arah peningkatan pendapatan," ujar Garry. Eksekutif bank kini menyampaikannya secara lebih lugas: "Tunjukkan kepada saya imbal hasil investasinya (ROI)," katanya mengutip Fintech Newa Singapura
Kualitas Data: Hambatan Utama di Luar Model AI
Di balik ambisi mengejar pendapatan, jalan membawa AI dari proyek percontohan (pilot) ke tahap produksi masal ternyata memicu kendala mendasar. Banyak bank mendapati bahwa hambatan terbesar bukanlah kecanggihan model algoritma AI itu sendiri, melainkan rendahnya kualitas data internal dan tata kelola pengetahuan organisasi.
Menurut Garry, bank dengan tata kelola data yang buruk terpaksa memakai model AI berukuran raksasa yang berbiaya mahal untuk mengompensasi ketidakakuratan data. Sebaliknya, institusi yang sudah merapikan struktur datanya dapat memanfaatkan model yang lebih kecil, efisien, dan murah.
Tantangan utama penerapan AI kini bergeser dari integrasi kode komputer ke kepemilikan proyek di tingkat unit bisnis. Penggunaan AI internal di Ant Digital bahkan telah mampu menghasilkan sekitar 90% kode pemrograman secara otomatis. "Yang paling penting saat ini adalah mengetahui apa yang harus dibangun," kata Garry.
Implementasi konkret terlihat pada dompet digital terbesar di Filipina, GCash. Memanfaatkan teknologi ZOLOZ—sistem verifikasi identitas (eKYC) yang awalnya dikembangkan untuk Alipay—GCash mampu memangkas verifikasi identitas yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari akibat pengecekan manual dan panggilan video. Di Filipina, tantangan bertambah karena keberagaman dokumen identitas resmi warga yang sangat bervariasi. Pada 2026, GCash meningkatkan sistem ZOLOZ dengan fitur anti-deepfake canggih guna menangkal manipulasi biometrik wajah berbasis rekaman kecerdasan buatan.
Peluang Bank Skala Kecil dan Lompatan Agentic AI
Fleksibilitas adopsi AI juga memetakan ulang peta persaingan antara bank digital dan bank konvensional. Bank digital baru seperti Ryt Bank di Malaysia mampu memproses pembukaan rekening hingga puluhan transaksi per detik tanpa beban infrastruktur lama (legacy system). Di sisi lain, bank tradisional skala menengah dan kecil (thrift bank) di Filipina justru memanfaatkan skalanya yang lebih ringkas untuk bergerak lebih cepat.
Chamber of Thrift Banks (CTB) mencatat laba bersih sektor bank perkreditan Filipina melonjak 11,8% menjadi PHP 5,86 miliar pada kuartal I/2026, dengan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) tumbuh lebih dari dua kali lipat.
Presiden CTB Jaime Valentin Araneta, yang juga memimpin Equicom Savings Bank, menegaskan bahwa bank perkreditan memanfaatkan AI untuk memangkas pekerjaan manual di back-office dan mengalihkan SDM ke fungsi yang bernilai lebih tinggi, termasuk deteksi kejahatan dan analisis kredit.
"Transformasi digital adalah kebutuhan eksistensial bagi perbankan," tegas Araneta, seraya mengingatkan bahwa biaya infrastruktur pemantauan kejahatan siber jauh lebih murah ketimbang menanggung dampak kebocoran data.
Namun, ketika AI berkembang dari sekadar memberikan rekomendasi menjadi Agentic AI—sistem otonom yang bisa mengambil tindakan atas nama nasabah—isu akuntabilitas muncul ke permukaan. Bila agen AI salah menafsirkan instruksi keuangan nasabah, tanggung jawab hukum tetap berada di tangan entitas pengguna.
Untuk menjawab kebutuhan lanskap baru ini, Ant Digital Technologies meluncurkan Commercial Agent Super Factory dan platform Agentar 2.0 pada ajang WAIC 2026. Platform ini menyediakan hampir 200 templat pakar digital berbasis peran serta ratusan modul keahlian yang bisa dikombinasikan oleh bank. Pendekatan pabrik agen (Agent Factory) ini memungkinkan perbankan menggelar banyak agen AI untuk berbagai fungsi bisnis—mulai dari penilaian kredit (underwriting), eKYC, hingga pemantauan fraud—tanpa harus membangun seluruh infrastruktur dari nol. ■
____________
DIGIONARY:
● Agentic AI: Sistem kecerdasan buatan otonom yang memiliki kemampuan mengambil keputusan, merencanakan langkah, dan mengeksekusi tindakan secara mandiri atas nama pengguna.
● Agent Factory: Platform penyedia infrastruktur terintegrasi yang memungkinkan perusahaan membuat, menguji, dan menggelar berbagai agen AI sesuai peran fungsi bisnis.
● Deepfake: Teknologi rekayasa media berbasis AI yang dapat memalsukan citra visual atau audio seseorang hingga sangat mirip dengan aslinya.
● Electronic Know Your Customer (eKYC): Proses verifikasi identitas nasabah secara elektronik dan digital tanpa tatap muka langsung guna memenuhi regulasi perbankan.
● Legacy System: Infrastruktur, perangkat lunak, atau sistem komputer lama yang masih digunakan organisasi tetapi sulit diintegrasikan dengan teknologi modern.
● Return on Investment (ROI): Rasio finansial yang mengukur tingkat efisiensi atau profitabilitas dari suatu investasi relatif terhadap biaya yang dikeluarkan.
