Selasa, 13 Okt 2026 DIGI-PRODUCTDigi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-Insights
Breaking
Beranda › Digi-News
Digi-News

Sektor Perbankan Digital Diincar Deepfake AI, Krom Bank Perkuat Sistem Pertahanan Perangkat

✍️ Nareswara Cakra Kusuma 🕒 12 Oct 2026
perbankan digital kian mengkhawatirkan lewat penyebaran aplikasi palsu—seperti Identitas Kependudukan Digital (IKD) fiktif.
perbankan digital kian mengkhawatirkan lewat penyebaran aplikasi palsu—seperti Identitas Kependudukan Digital (IKD) fiktif.

penipuan aplikasi IKD palsu dan deepfake AI. Akses screen-sharing ditangkal 100%.

____________

DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Krom Bank bermitra dengan SHIELD guna menangkal penipuan aplikasi IKD palsu, deepfake AI, dan akses jarak jauh.
■ Integrasi Device-First Fraud Intelligence sukses mendeteksi 100% upaya screen-sharing berbahaya secara real-time.
■ Respon penanganan fraud melesat 95% lebih cepat sejak nasabah login hingga logout tanpa mengganggu kenyamanan transaksi.

__________

Fenomena kejahatan siber bermodus penyebaran aplikasi palsu—seperti Identitas Kependudukan Digital (IKD) fiktif—makin gencar mengincar sektor perbankan digital di Indonesia. Pelaku menjebak korban untuk mengunduh aplikasi bodong melalui pesan instan seperti WhatsApp dan media sosial, lalu mengambil alih akun perbankan dengan memanfaatkan fitur perekaman layar (screen-sharing) dan pengoperasian jarak jauh (remote access).

Tidak berhenti di situ, sindikat kejahatan siber modern kini mengadopsi teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk merekayasa suara atau video pejabat bank maupun kerabat korban guna mendesak transaksi transfer secara instan.

Tekan Risiko Kejahatan Siber

Guna membendung ancaman rekayasa sosial (social engineering) yang serba otomatis tersebut, PT Krom Bank Indonesia Tbk bermitra dengan platform fraud intelligence global, SHIELD. Krom Bank mengintegrasikan solusi Device-First Fraud Intelligence yang mampu memantau indikator perilaku perangkat secara real-time di sepanjang sesi transaksi nasabah.

Kemitraan teknologis ini mencatatkan hasil signifikan dalam menekan risiko kejahatan siber:
 
● 100% upaya pembagian layar (screen sharing) dan remote access berbahaya berhasil terdeteksi secara langsung.
 ● Peningkatan hingga 10 kali lipat dalam kemampuan mendeteksi potensi pengambilalihan akun (account takeover).
 ● 95% lebih cepat dalam merespons dan menghentikan aksi fraud sejak nasabah login hingga logout.

Co-Founder & CTO Krom Bank, Tan Alie, menegaskan bahwa metode keamanan aplikasi statis (app hardening) tidak lagi memadai untuk menahan gempuran serangan kejahatan siber berbasis AI.

"Seiring dengan semakin canggihnya teknologi fraud berbasis AI yang dihadapi Krom Bank, kami melihat bahwa solusi app hardening statis saja tidak cukup. SHIELD hadir sebagai lapisan pertahanan yang cukup penting dalam memberikan perlindungan menyeluruh, sehingga Krom Bank dapat mendeteksi dan menghentikan berbagai teknologi fraud yang semakin canggih dari awal tanpa mengorbankan pengalaman maupun privasi pengguna," jelas Tan Alie.

___________

Ancaman penipuan digital yang menyasar perbankan digital kian mengkhawatirkan lewat penyebaran aplikasi palsu—seperti Identitas Kependudukan Digital (IKD) fiktif—yang memicu pengambilalihan akun via fitur screen-sharing dan remote access, serta rekayasa sosial berbasis deepfake AI. Merespons eskalasi serangan siber ini, PT Krom Bank Indonesia Tbk menggandeng platform fraud intelligence global, SHIELD, untuk mengintegrasikan teknologi Device-First Fraud Intelligence. Langkah preventif ini berhasil mendeteksi 100% upaya screen-sharing berbahaya secara real-time, meningkatkan pemindaian risiko account takeover hingga 10 kali lipat, dan mempercepat respons penanganan fraud hingga 95% tanpa mengorbankan privasi nasabah.

_____________

Sementara itu, Founder & CEO SHIELD, Justin Lie, menjelaskan bahwa penipuan digital era kini berkembang secara tertutup di latar belakang perangkat korban tanpa disadari pengguna.

"Fraud modern tidak terjadi dalam sekejap. Ia berkembang sepanjang sesi berlangsung, sering kali memanfaatkan berbagai tools canggih yang dirancang agar tetap tersembunyi. SHIELD memberikan kemampuan bagi bank seperti Krom Bank untuk mengidentifikasi setiap perangkat dan mendeteksi setiap tools berbahaya secara real-time," ungkap Justin Lie.

Melalui penerapan lapisan keamanan dinamis ini, Krom Bank memastikan privasi serta kenyamanan transaksi nasabah tetap terjaga rapat dari intaian aplikasi palsu maupun kejahatan siber berteknologi tinggi.

Kelemahan Utama Perbankan Digital

Merebaknya modus peretasan berbasis aplikasi palsu dan rekayasa sosial AI membawa implikasi strategis fundamental bagi industri keuangan digital Indonesia:

 ● Kelemahan utama perbankan digital selama ini adalah ketergantungan pada app hardening statis yang rentan ditembus saat peretas menguasai sesi aktif (active session) via remote access. Peralihan ke mitigasi berbasis device intelligence—yang memetakan profil risiko perangkat dan interaksi real-time—menjadi standar baru (gold standard) sistem pertahanan perbankan.

● Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui SE OJK No. 29/SEOJK.03/2022 tentang Ketahanan dan Keamanan Siber bagi Bank Umum menuntut bank digital memiliki sistem deteksi dini yang adaptif. Keberhasilan menekan account takeover hingga 95% secara langsung mengurangi potensi klaim ganti rugi nasabah serta menekan risiko reputasi (reputational risk) yang fatal bagi pertumbuhan funding bank digital.

 ● Keterlibatan deepfake AI menandai dimulainya era Autonomous Fraud. Perbankan nasional wajib membangun arsitektur keamanan terintegrasi yang tidak hanya mengamankan PIN atau OTP, melainkan memverifikasi keabsahan sesi secara menyeluruh guna mencegah kebocoran likuiditas secara sistemik. ■

__________

DIGIONARY:

● Account Takeover/ATO: Bentuk kejahatan siber di mana peretas berhasil menguasai akun perbankan atau digital milik korban secara ilegal untuk menguras dana atau melakukan transaksi tanpa izin.
● App Hardening: Proses mengamankan aplikasi seluler dengan menutup celah kerentanan kode agar tidak mudah direkayasa balik (reverse engineering) atau dimodifikasi oleh pihak luar.
● Deepfake AI: Teknologi kecerdasan buatan yang digunakan untuk merekayasa atau menghasilkan citra, gambar, audio, dan video buatan yang sangat mirip dengan identitas seseorang secara realistis.
● Device-First Fraud Intelligence: Teknologi pengamanan yang menganalisis identitas unik, status kesehatan, dan tingkat risiko suatu perangkat seluler secara real-time untuk mendeteksi ancaman kejahatan sebelum transaksi dieksekusi.
● Remote Access: Kemampuan teknis untuk mengontrol atau mengakses suatu perangkat komputer atau ponsel pintar dari jarak jauh melalui jaringan internet.
● Screen-Sharing: Fitur yang memungkinkan tampilan layar pada suatu perangkat dibagikan atau diproyeksikan secara langsung ke perangkat lain.
● Social Engineering: Taktik manipulasi psikologis yang memanfaatkan kekhilafan atau kepercayaan korban agar memberikan informasi rahasia atau melakukan tindakan tertentu yang merugikan.

DP
Deddy H. Pakpahan
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update