Rabu, 14 Okt 2026 DIGI-PRODUCTDigi-BankersDigi-ColumnDigi-CryptoDigi-Insights
Breaking
Beranda › Digi-Tech
Digi-Tech

Riset EY: Baru 40% Perbankan Global Jadi Pemimpin AI, Ini Lima Pilar Strategi Efektifnya

✍️ Nareswara Cakra Kusuma 🕒 14 Oct 2026
Perbankan global didorong keluar dari fase proyek uji coba terfragmentasi menuju transformasi AI perusahaan secara menyeluruh.
Perbankan global didorong keluar dari fase proyek uji coba terfragmentasi menuju transformasi AI perusahaan secara menyeluruh.

Riset EY sebut baru 40% bank sukses adopsi AI. Simak 5 strategi kunci agar investasi AI di sektor perbankan hasilkan return optimal dan bernilai nyata!

______________

DIGI-HIGHLIGHTS:

■ Riset EY ungkap baru 40% bank yang anggap diri sebagai pemimpin AI dan hanya 53% yang laporkan kenaikan pendapatan dari adopsi AI.
■ Perbankan global didorong keluar dari fase proyek uji coba terfragmentasi menuju transformasi AI perusahaan secara menyeluruh.
■ Lima pilar utama EY: holistik-terkoordinasi, tata kelola risiko kuat, dipimpin bisnis, berpusat pada manusia, dan visi jangka panjang.

______________

Kalangan direksi dan eksekutif puncak (C-suites) di industri perbankan global kini dihadapkan pada tuntutan mendesak untuk membuktikan nilai tambah nyata dari gelombang investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang telah digelontorkan.

Meskipun adopsi teknologi telah merambah berbagai lini operasional bank—mulai dari efisiensi back-office hingga peningkatan deteksi penipuan—tingkat maturitas digital antar-institusi perbankan masih berjalan tidak merata. Berdasarkan data riset terbaru yang dirilis oleh Ernst & Young (EY), hanya 40% bank yang menganggap diri mereka sebagai pemimpin AI (AI leaders), dan baru sedikit di atas 50% institusi yang melaporkan adanya perolehan pendapatan (revenue gains) dari inisiatif teknologi tersebut.

Temuan ini menggarisbawahi bahwa tantangan utama perbankan saat ini bukan lagi kekurangan kasus penggunaan (use cases), melainkan bagaimana mengerucutkan pilihan pada strategi yang benar-benar menghasilkan nilai finansial dan strategis yang terukur.

"Tantangan utamanya bukanlah kurangnya kasus penggunaan AI, melainkan mempersempit pilihan pada opsi yang menghasilkan nilai nyata, diukur terhadap imbal hasil finansial dan sasaran strategis," ujar Beatriz Sanz Sáiz, EY Global AI Sector Leader dikutip dari laman EY.com.

Data survei EY menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh bank memang telah merasakan perbaikan pada efisiensi operasional dan produktivitas karyawan—yang menjadi fokus utama pada gelombang adopsi awal. Kendati demikian, indeks perbankan AI global menunjukkan bahwa segelintir bank terdepan mampu mematangkan kapabilitas AI mereka dua kali lipat lebih cepat dibanding rata-rata pasar, menciptakan jurang pemisah yang kian melebar dengan bank-bank yang tertinggal.

Lima Pilar AI

Guna mengatasi fragmentasi investasi dan menghindari pembangunan fungsi AI yang terkotak-kotak (silos), EY merumuskan lima pilar atau atribut utama yang harus diadopsi oleh pemimpin perbankan untuk memaksimalkan potensi transformatif AI:

Pertama, transformatif, holistik, dan terkoordinasi: Visi AI perusahaan harus dirancang secara berani dan menyeluruh, didukung oleh pendekatan berbasis platform (platform-based approach). Tanpa arsitektur terintegrasi, bank berisiko menciptakan puluhan versi fungsi AI yang terdesentralisasi, mirip dengan membengkaknya penggunaan ribuan lembar spreadsheet di masa lalu.

Kedua, berbasis risiko dan tata kelola yang kokoh: Tata kelola (governance) tetap menjadi tantangan terbesar, dengan 52% bank mengaku kesulitan mengelolanya. Pendekatan pengawasan berlapis (watchtower approach), pengujian kontrol otomatis, serta validasi model berkelanjutan wajib diterapkan untuk memitigasi risiko disrupsi kepercayaan nasabah dan kerugian finansial.

Ketiga, dipimpin oleh bisnis dan berfokus pada isu strategis: AI bukan sekadar urusan backlog divisi teknologi informasi (IT), melainkan keputusan alokasi modal strategis (capital allocation decision). Eksekutif bisnis dan teknologi harus berkolaborasi mengarahkan investasi ke area yang mampu mendongkrak margin EBITDA dan keunggulan kompetitif.

Keempat,  berpusat pada manusia (huma-centered): Keberhasilan AI sangat bergantung pada kolaborasi manusia dan mesin, manajemen perubahan (change management), serta peningkatan keterampilan (upskilling) tenaga kerja. Pergeseran paradigma memposisikan agen AI sebagai rekan kerja menuntut perancangan ulang alur kerja operasional.

Kelima, ruturistik dan berorientasi jangka panjang: Perbankan harus merancang infrastruktur teknis yang modular, dapat digunakan ulang, serta siap menghadapi evolusi teknologi masa depan seperti integrasi aset digital, tokenisasi, hingga quantum computing.

Penerapan kelima pilar ini menuntut komitmen penuh dari jajaran direksi untuk menetapkan arah kebijakan dari puncak (tone from the top), membangun metrik kesuksesan berbasis Return on Investment (ROI), serta mengelola transisi budaya kerja secara disiplin demi menghindari risiko kegagalan implementasi jangka panjang.

Efisiensi Operasional dan Pertumbuhan Pendapatan

Analisis mendalam dari riset EY memancarkan sejumlah implikasi strategis fundamental bagi pengambil keputusan di sektor perbankan.

Realitas bahwa hanya 53% bank yang menikmati pertumbuhan pendapatan menunjukkan bahwa efisiensi biaya (cost cutting) melalui otomatisasi chatbot atau back-office belum otomatis mendongkrak top-line growth. Bank dituntut mengintegrasikan AI ke dalam layanan front-end yang bernilai tambah tinggi (revenue-generating operations).

Hambatan terbesar dalam skala adopsi AI bukanlah algoritma atau keterbatasan perangkat keras, melainkan resistensi organisasi dan minimnya manajemen perubahan. Transformasi tenaga kerja dan literasi AI bagi manajer tingkat menengah menjadi kunci penentu ROI teknologi.

Bank yang memiliki komite pengawasan AI formal terbukti jauh lebih efektif dalam mengamankan pertumbuhan pendapatan dan kepatuhan regulasi. Integrasi fungsi manajemen risiko, hukum, dan kepatuhan sejak fase perencanaan awal (privacy and ethics by design) menjadi perisai dari ancaman reputasi dan denda regulator. ■

___________

DIGIONARY:

● Artificial Intelligence / AI: Teknologi kecerdasan buatan yang dirancang untuk meniru proses kognitif manusia guna mengotomatisasi analisis, pengambilan keputusan, dan eksekusi operasional.
● EBITDA: Indikator keuangan (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) yang mengukur profitabilitas operasional perusahaan sebelum dikurangi beban bunga, pajak, dan penyusutan.
● Return on Investment / ROI: Metrik keuangan yang digunakan untuk mengukur efisiensi atau tingkat pengembalian keuntungan dari suatu bentuk investasi modal.
● Unified Strategic Vision: Pandangan strategis terpadu yang menyelaraskan seluruh lini unit bisnis dalam satu tujuan operasional dan teknologi yang koheren.
● Upskilling: Proses pelatihan terstruktur untuk meningkatkan keterampilan dan kapabilitas tenaga kerja agar relevan dengan tuntutan teknologi dan operasional yang baru.

 

DP
Deddy H. Pakpahan
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update