Sejak 2020 BI beli SBN di pasar perdana sebesar Rp974,09 triliun

- 21 November 2022 - 18:41

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana sebesar Rp974,09 triliun sejak 2020 hingga 15 November 2022.

digitalbank.id – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana sebesar Rp974,09 triliun sejak 2020 hingga 15 November 2022.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, dukungan ini [pembelian SBN] dilakukan untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), serta penanganan kemanusiaan dan kesehatan karena Covid-19.

“Dukungan tersebut dilakukan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 2 tahun 2020, sebagaimana ditindaklanjuti lewat Keputusan Bersama (KB) antara Gubernur BI dan Menteri Keuangan,” katanya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin (21/11).

Pembelian SBN tersebut untuk keperluan Covid-19 yang terdiri dari pembelian SBN KB I sebesar Rp266,11 triliun, KB II senilai Rp397,56 triliun, dan KB III sebanyak Rp310,42 triliun.

Adapun KB III ditujukan khusus untuk penanganan kemanusiaan dan kesehatan karena Covid-19, dana sebesar Rp128,58 triliun masih tersisa untuk direalisasikan hingga akhir tahun ini.

Perry Warjiyo berkomitmen akan merealisasikan sisa pembelian tersebut, diperkirakan pada akhir tahun nanti pembelian SBN BI di pasar perdana mencapai sekitar Rp1.444 triliun.

“Jadi Rp1.444 triliun ini jumlah SBN yang kami beli di pasar perdana selama tiga tahun untuk dukungan kepada APBN dalam rangka penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi sesuai UU Nomor 2 Tahun 2020,” tuturnya.

Dia menegaskan dukungan pembiayaan APBN tersebut merupakan salah satu bentuk kebijakan moneter bank sentral di dalam bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Selain pembelian SBN di pasar perdana, kebijakan moneter lainnya yang kini sedang dijalankan oleh BI yakni menaikkan suku bunga acuan, memperkuat operasi moneter, memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, dan mempertahankan kebijakan likuiditas longgar. (HAN)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.