Sebuah survey menyimpulkan gen Z lebih konservatif soal keuangan dan bank dibanding milenial

- 30 Desember 2021 - 20:44

Generasi milenial menggunakan uangnya untuk membeli produk atau layanan yang bisa memberikan pengalaman positif. Sementara, gen Z lebih fokus untuk menabung dan membeli produk praktis.

digitalbank.id — GENERASI Z YANG lahir antara tahun 1996-2015 disebut sebagai generasi muda yang punya rasa cemas atau khawatir yang tinggi. Dengan kata lain, Gen Z diyakini lebih konservatif daripada Milenial tentang uang, karena tumbuh selama krisis keuangan dan masa penghematan, dan memiliki minat yang lebih kuat dalam tabungan dan manajemen keuangan.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Northwestern Mutual Group, satu dari empat (28%) dalam kelompok usia Gen Z mengatakan kelompok mereka tidak bertanggung jawab atas kebijakan fiskal di negaranya. Fiskal adalah segala jenis peraturan dan keputusan yang diambil pemerintah demi menjaga stabilitas perekonomian secara makro.

Beberapa sektor terdampak langsung oleh kebijakan fiskal adalah pendapatan nasional, tingkat pengangguran, inflasi, dan kemiskinan. Gen Z menganggap generasinya tak bertanggungjawab atas keadaan itu.

Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa Gen Z memiliki keinginan yang dalam untuk memahami pengelolaan uang dengan lebih baik, meskipun cara mereka ingin mempelajarinya mungkin berbeda secara signifikan dari generasi sebelumnya.

Laporan perbankan digital 2018 oleh Raddon dan The Financial Brand menemukan bahwa 56% Gen Z telah berbicara dengan orang tua mereka tentang tabungan. Tapi itu ada di belakang sumber utama mereka untuk informasi keuangan yakni: media sosial. Tahun lalu, studi tentang Gen Z oleh Porter Novelli/Cone menemukan bahwa 64% konsumen muda beralih ke YouTube untuk belajar tentang uang, diikuti oleh Instagram sebesar 63%.

Senada dengan survey tersebut sebagaimana dilansir dari hubspot.com, generasi milenial dan generasi Z memiliki perbedaan tingkah laku dalam mengelola uang. Kedua generasi tersebut tentunya sama-sama peduli terhadap keuangan dan berinvestasi pada hal yang dapat meningkatkan karier mereka, seperti mengejar pendidikan.

Baik generasi milenial dan generasi Z dikenal untuk memperbaiki kebiasaan finansial dari generasi sebelumnya. Namun, milenial menggunakan uangnya untuk membeli produk atau layanan yang bisa memberikan pengalaman positif. Sementara, generasi Z lebih fokus untuk menabung dan membeli produk praktis.

Bagi Gen Z, sementara itu, afinitas merek itu juga sangat penting. Saat Facebook dan Google (pemilik YouTube) memperkenalkan perbankan digital dan produk keuangan — yang pasti akan muncul di samping konten pendidikan — ini sangat menarik minat Gen Z. Sebuah survei perbankan digital global baru-baru ini dari Oracle menemukan bahwa 56% dari mereka yang berusia di bawah 30 tahun bersedia untuk beralih ke solusi perbankan digital yang ditawarkan oleh Google atau Apple jika/ketika mereka dibawa ke pasar.

Mengapa? Karena mereka mempercayai merek yang mereka kenal. Karena itu faktor utama saat memilih rekening bank bagi mereka adalah apakah bank tersebut memberikan rencana tabungan yang dipersonalisasi? Adakah saran atau skemanya sehingga tujuan keuangannya bisa tercapai? Adakah hadiah kalau target tabungannya tercapai? Reputasi merek yang kuat (keamanan, keandalan) juga sangat dipertimbangkan oleh Gen Z.

Menariknya, menurut studi Raddon/Financial Brand, di lain pihak, Gen Z lebih suka melakukan kegiatan perbankan secara tatap muka (sebelum pandemi COVID-19) dan secara rutin mengunjungi cabang fisik bank. Sifat ini bukan hanya karena kekhawatiran mereka soal keuangan, melainkan juga karena Gen Z ingin akrab sekali dengan suatu merek.

Oracle menemukan bahwa konsumen di bawah 30 tahun paling tertarik pada saran dan bantuan yang dipersonalisasi ketika memilih penyedia perbankan — dan semakin banyak kontak manusia, semakin baik. Studi ini juga menemukan bahwa keinginan dan prioritas ini juga berlaku di seluruh produk pinjaman dan investasi.

Generasi milenial lebih banyak menghabiskan uangnya ke suatu produk. Generasi Z menghabiskan lebih sedikit uang saat melakukan pembelian dan fokus pada pengeluaran yang bertanggung jawab. Sebagian besar generasi Z belum memiliki kekuatan untuk membeli, namun beberapa penelitian menyebutkan bahwa generasi tersebut bertujuan untuk mengeluarkan uang secara pragmatis jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Sudah begitu, Generasi Z juga lebih sedikit melakukan berbelanja online jika dibandingkan dengan milenial, tetapi lebih mengharapkan pelayanan ekstra saat melakukan pembelian. Seperti, biaya antar gratis atau tambahan diskon.Walaupun milenial sedikit kurang hemat darpada generasi Z, bukan berarti mereka lebih sembrono, lho. Walaupun milenial mengeluarkan uang untuk membeli beberapa produk, mereka juga memiliki penghasilan yang lebih banyak dari generasi sebelumnya. Selain itu, juga merupakan kelompok usia yang paling berpendidikan, dan optimis terhad ap masa depan. (SAF)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.