Menjelang akhir 2022, total pembiayaan pinjaman online tembus Rp19,56 triliun

- 26 November 2022 - 22:00

Menjelang akhir tahun 2022, total fasilitas pinjaman PT Investree Radhika Jaya (Investree) FinTech (Fintech P2P Lending) Common Financing Platform (juga dikenal sebagai Pinjaman Online (Pinjol)) mencapai Rp19,56 triliun.

digitalbank.id – Menjelang akhir tahun 2022, total fasilitas pinjaman PT Investree Radhika Jaya (Investree) FinTech (Fintech P2P Lending) Common Financing Platform (juga dikenal sebagai Pinjaman Online (Pinjol)) mencapai Rp19,56 triliun.

Chief Sales Officer Investree Salman Baharuddin mengatakan perusahaan telah menyediakan kredit sebesar Rp 19,56 triliun sejak awal. Pada 2022, jumlah pinjaman yang disalurkan mencapai Rp 3,5 triliun pada November.

“Salah satu sektor yang paling banyak menyumbang kredit adalah industri kreatif. Tahun 2022 saja mencapai Rp 1,2 triliun dari total Rp 1,6 triliun,” kata Salman, Jumat (25/11). Selain itu, nilai pinjaman yang dikeluarkan Investree hingga saat ini mencapai Rp 12,4 triliun. Di sisi lain, nilai pinjaman yang diberikan tercatat sebesar Rp 11,21 triliun. Outstanding pinjaman berjumlah sekitar Rp 951 miliar. Sejak itu, jumlah peminjam Investree mencapai 22.398, baik institusi maupun individu, dan jumlah peminjam aktif mencapai 15.745.

Jumlah pinjaman yang disalurkan mencapai 44.317 dan jumlah pinjaman yang disalurkan pada tahun 2022 mencapai Rp3,09 triliun. Sementara itu, Investree juga tengah bersiap memperkuat kerja sama bisnis setelah mematangkan penguasaan 18,4% saham PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR). Salah satu fokus kerja sama ini adalah penguatan ekonomi kreatif dalam negeri. Salman mengatakan departemen kreatif memiliki potensi bisnis yang sangat besar. Pekerja dalam kelompok ini memiliki akses terbatas terhadap modal kerja, namun tanpa inklusi keuangan yang kuat. 

Di sisi lain, Investree juga tengah bersiap meningkatkan kolaborasi bisnis setelah merampungkan penguasaan 18,4 persen saham PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR). Adapun salah satu fokus bisnis dari kolaborasi ini adalah meningkatkan industri kreatif dalam negeri. Salman mengatakan sektor kreatif menawarkan potensi bisnis yang besar. Para pekerja di kelompok ini memiliki keterbatasan mengakses modal kerja namun tidak dibarengi dengan inklusi keuangan yang kuat. 

 

“Kami ingin menjadi jembatan bagi pelaku usaha industri kreatif sebagai sebuah marketplace fintech untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan mereka dan mengisi gap yang selama ini ada di industri kreatif,” ujar dia. Dia menyebutkan sektor kretif yang telah dibiayai seperti perusahaan yang bergerak di bidang periklanan, event orginazer, konten designer dan konten yang bersifat umum. Ke depanya perusahaan akan menjajaki industri lainnya, seperti makanan dan minuman, production house, hingga apparel.

Sementara itu dalam laman websitenya hari ini, Investree belum menampilkan kinerja q3/2022. Bisnis baru menemukan kinerja keuangan akhir 2021. Dalam periode itu, perusahaan tercatat memiliki aset Rp159,07 miliar. Sementara dari pos liabilitas dan ekuitas, Investree tercatat memiliki kewajiban Rp130,5 miliar, sehingga ekuitas perusahaan adalah Rp28,52 miliar. Dari pos laba rugi 2021, pendapatan perusahaan belum mampu menahan beban yang muncul. Tercatat Investree memiliki pendapatan Rp138,28 miliar, sedangkan beban perusahaan Rp158,38 miliar. Investree juga mencatatkan beban lain Rp7,7 miliar. Akibatnya perusahaan mengalami rugi Rp27,8 miliar.  Sedangkan TKB90 Investree per akhir pekan ketiga November 2022 ini diumumkan sebesar 96,09 persen. TKB adalah tingkat keberhasilan bayar nasabah sampai 90 hari setelah jatuh tempo. Atau dengan kata lain, saat ini kredit macet di Investree mencapai 3,91 persen. (SAF)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.