Ini rahasia Kakao Bank jadi bank paling moncer di Korea Selatan

- 15 November 2021 - 08:57

digitalbank.id – SEBUAH PENELITIAN MENDALAM menunjukkan, dari sekian banyak bank digital dengan segala bentuk yang ada di Korea Selatan, baik startup maupun bank incumbent, ternyata hanya ditemukan 4 bank yang menguntungkan pada tahun 2019, yakni: Kakao Bank, WeBank, MYbank, dan Tinkoff Bank.

Luar biasa. Dengan hitungan investasi yang jumbo pun, belum tentu sebuah bank digital bisa langsung membukukan laba dalam waktu singkat. Tiga bank digital yang pertama memiliki manfaat besar dalam bentuk biaya akuisisi dan aktivasi yang rendah karena hubungan mereka dengan perusahaan induknya, yang memiliki banyak pelanggan potensial dan data yang dapat dimanfaatkan oleh bank.

Kira-kira apa gerangan yang bisa membuat Kakao Bank berhasil ? Dennis Khoo, mantan group head TMRW Digital Group UOB, yang bertanggung jawab atas strategi dan pertumbuhan Bank Digital

TMRW mengatakan bahwa faktor yang paling bertanggung jawab atas kesuksesan Kakao Bank, antara lain karena pertama, kepemilikan sahamnya yang unik; dan kedua waktu (timing) yang tepat.

Ketika diluncurkan pada tahun 2016, tidak ada aplikasi mobile banking Korea yang benar-benar kredibel seperti Kakao Talk. Pada bulan pertama operasinya, Kakao Bank berhasil mengumpulkan satu juta pelanggan. Kemudian pada Maret 2020, ia membukukan 12 juta pengguna (23 persen dari populasi Korea Selatan), di antaranya 10 juta aktif pengguna aktif!

Kakao Bank merupakan salah satu contoh sukses bank digital. Bank di Korea Selatan yang diluncurkan pada 27 Juli 2017 ini berkembang pesat hanya dalam waktu cukup singkat. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, bank ini berhasil mencetak keuntungan pada tahun 2019. Total MAU – monthly active user (pengguna aktif bulanan) Kakao Bank pada akhir 2020 mencapai lebih dari 13,6 juta.

Hanya dalam beberapa bulan berdiri, Kakao Bank sudah memiliki 5 juta pengguna. Hal yang hampir mustahil bisa dilakukan oleh bank konvensional. Senada dengan Dennis Hoo, Poltak Hotradero, peneliti sekaligus ekonom Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan Kakao Bank sukses menjadi bank digital yang untung dan berkembang pesat karena memiliki ekosistem sangat besar. Bank ini memiliki banyak sekali komunitas-komunitas. Kakao Bank tidak memiliki cabang tetapi fokus pada layanan berbasis teknologi untuk menyasar nasabah.

Konsep ini yang memungkinkan mereka menjangkau berbagai segmen pelanggan dengan cepat dan dalam skala besar. Bank ini melayani segmen milenial, menawarkan alat manajemen keuangan pribadi yang kuat yang berfokus pada penganggaran dan tabungan. Berdasarkan riset BCG, Kakao Bank memiliki ekosistem digital yang luas yang terdiri dari aplikasi perpesanan yang sangat populer, platform pembayaran, fungsi perdagangan. Di sektor komunikasi, Kakao Bank punya layanan Kakao Talk dengan pengguna 50 juta lebih dan KakaoStory dengan pengguna 70 juta atau melebihi pengguna Facebook di Korea Selatan. Akuisisi nasabah dilakukan lewat dua layanan ini.

Bagaimana dengan bank-bank digital di Indonesia? Masih butuh waktu tentunya. Semua masih berlomba, adu strategi agar menjadi yang terbaik. Namun demikian dari bank digital di Indonesia, ada beberapa yang mengikuti jejak Kakao Bank yang di awal membangun komunitas dan ekosistem start up atau atau mengakuisisi start up yang memiki MAU tinggi sebagaimana halnya GoTo (Gojek-Tokopedia) dengan Bank Jago-nya atau grup BCA yang baru mengembangkan Blu dengan sejumlah ekosistem digital yang sebelumnya telah mereka kembangkan seperti Bli-bli, Agate (game developer) dan lain-lain. Tujuannya tentu saja agar akuisisi pelanggan bisa lebih mudah dan murah.

Akankah strategi sukses Kakao Bank bisa diduplikasi oleh bank-bank digital di Indonesia? Jawabanya tidak mudah, tapi pealing tidak, jejak Langkah Kakao Bank bisa menjadi referensi utama bank-bank di Indonesia, baik bank digital maupun yang tengah bertransformasi menjadi Bank Digital. (SAF)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.