Tak paham selera “High Earners, Not Rich Yet”, jangan harap bank dapat cuan

Share post:

digitalbank.id – GENERASI TUA DAN MUDA, membentuk variasi, selera atau kebiasaan masing-masing, termasuk di industri perbankan. Secara umum, mengutip laman McKinsey.com, pendapatan perbankan ritel yang dibagi berdasarkan generasi (misalnya, Gen X, baby boomer) berbeda antara pasar negara berkembang dan negara maju.

Di negara berkembang, hampir setengah dari pendapatan perbankan ritel dihasilkan oleh
orang-orang di bawah usia 35 tahun. Sementara di negara maju, hampir setengahnya berasal dari orang berusia 50 tahun ke atas. Perbedaan ini berimplikasi besar pada inovasi produk dan saluran perbankan, karena nasabah memiliki kebutuhan dan perilaku keuangan yang berbeda di kedua jenis pasar ini.

Secara global, lebih dari dua pertiga Generasi Y dan Z menggunakan saluran digital (online
atau seluler). Meskipun hanya sebagian kecil baby boomer yang secara tradisional menggunakan saluran seperti itu, terlebih karena dipacu krisis COVID-19.

Baca juga: BPD berpotensi besar jadi bank digital bila go public dan transparan

Di antara saluran digital, aplikasi mobile banking mencapai peningkatan signifikan karena
pelanggan harus melakukan kegiatan perbankannya dari jarak jauh. Di AS dan di pasar negara berkembang seperti China atau Rusia, ponsel sudah lama menjadi pilihan utama perbankan, baik untuk pembayaran atau produk keuangan yang lebih kompleks.

Eropa dan Jepang tertinggal dalam mobile banking, karena kedatangan lebih awal saluran
digital berbasis web, yang telah mengakar.

Selera HENRYs

Ada yang menarik dari hasil penelitian McKinsey tersebut, secara global bahwa pendapatan besar bank-bank digital ini justru disumbang oleh kelompok Milenial dan Gen Z yang notabene adalah kelompok yang disebut HENRYs (High Earners, Not Rich Yet).

High Earners, Not Rich Yet adalah istilah untuk menggambarkan orang yang berpenghasilan tinggi, biasanya antara US$250.000 hingga US$500.000, tetapi belum menabung atau berinvestasi cukup untuk dianggap kaya. Sebagian besar pendapatan HENRY dikonsumsi oleh belanja konsumen, biaya pendidikan, dan perumahan. Tidak banyak yang tersisa untuk pensiun dan investasi, yang membuat pencapaian status kaya menjadi sulit.

Kelompok ini memiliki selera dan preferensi terhadap merek, produk maupun jasa yang berbeda. Inilah yang mengubah landscape perbankan. Hal itu juga yang dirasakan perbankan di Indonesia, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia (BNI). ”Kami harus menyesuaikan tampilan semua fitur baru dengan milenial, karena mayoritas yang melakukan transaksi via mobile banking adalah generasi milenial dan gen Z,” ungkap Direktur IT dan Operasi PT. Bank Negara Indonesia (Persero) tbk (BBNI), Y.B. Hariantono pada diskusi virtual mengenai digital bank pekan lalu.

Baca juga: Kacab bank siap-siap mutasi, posisi Anda akan digantikan head of digital

Lebih lanjut Hariantono menjelaskan, pembatasan aktivitas di masa pandemi menjadi salah
satu faktor yang menyebabkan kenaikan aktivitas transaksi perbankan secara digital. Ini menjadi salah satu pendorong naiknya nilai transaksi keuangan digital di Tanah Air yang menurut Bank Indonesia mencapai Rp23,7 triliun per Mei 2021 atau naik 57,38% secara year on year (yoy).

Saat ini, tercatat 98% transaksi BNI sudah dilakukan melalui e-Channel, dan hanya 2% saja yang melalui kantor cabang. BNI mencatat, sampai dengan kuartal pertama 2021, di segmen konsumer, tercatat ada peningkatan pengguna mobile banking sebesar 58% dengan nilai transaksi meningkat 33%. Sedangkan, frekuensi transaksi di segmen konsumer naik 50%.

Di segmen korporasi melalui BNI Direct, tercatat ada peningkatan jumlah pengguna sebesar 24% dengan kenaikan nilai transaksi sebesar 22,7% dan frekuensi transaksi sebesar 140%. “Artinya, penggunaan kanal elektronik meningkat pesat untuk industri kita baik dari sisi konsumer maupun perusahaan. Kami melihat dari angka pertumbuhan sudah terjadi dan meningkat signifikan. Pandemi jelas mendorong, angka selama pandemi naik secara drastis,” kata YB Hariantono.

Baca juga: Bank BUMN adu strategi di jalur digital hadapi fenomena gig economy

Hariantono menilai, pandemi yang berlangsung lebih dari setahun ini menyebabkan
terjadinya perubahan pengguna ke arah digital banking. Kebiasaan ini diperkirakan juga akan terus berlanjut meskipun pandemi Covid-19 sudah berlalu.

“Kebiasaan orang sudah terbentuk, sudah menyukai channel ini, setelah pandemi kebiasaan orang akan tetap melakukan kebiasaan barunya, ini akan menjadi new habit. Sesuatu tren yang di-drive oleh pandemi,” tambah Hariantono.

Nah, semakin penting kan melayani HENRYs, karena meski belum kaya tapi kebutuhannya banyak jumlahnya sangat banyak di tanah air. Kecil bila dilihat nilai per transaksinya, namun karena jumlahnya amat besar, maka HENRYs justru penyumbang pendapatan bank yang sangat penting di masa depan. Jadi, kalau tak paham selera “High Earners, Not Rich Yet”, jangan harap bank dapat cuan (SAF)

Related articles

KPM Prima: produk kolaborasi Danamon, Adira Finance dan MUFG menjadi pemicu pertumbuhan bisnis yang signifikan!

digitalbank.id - PT Bank Danamon Indonesia bersama PT Adira Dinamika Multi Finance dan MUFG Bank kembali mendukung rangkaian...

Tingkatkan pertumbuhan dana murah, BSI syariah kelola payroll kementerian perhubungan

digitalbank.id - SETELAH melalu berbagai proses penilaian, akhinyra PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) sepakat untuk menandatangani perjanjian...

Puluhan perusahaan pinjol hadapi kredit macet, kemampuan platform jadi salah satu penyebab

digitalbank.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan puluhan pinjol dari 102 entitas yang berizin dan terdaftar di OJK...

Kredit macet pinjol terus menggelembung, OJK lakukan supervisory action untuk mitigasi pelanggaran

digitalbank.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan puluhan pinjol dari 102 entitas yang berizin dan terdaftar di OJK...