
Bank Rakyat Indonesia (BRI) resmi menyetujui aksi korporasi buyback saham senilai Rp3 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025. Langkah ini bertujuan meningkatkan nilai pemegang saham dan mendukung program kepemilikan saham bagi karyawan. BRI juga membagikan dividen senilai Rp51,74 triliun atau Rp343,40 per saham, dengan rasio dividen mencapai 85,32% dari laba bersih tahun sebelumnya yang mencapai Rp60,64 triliun.
Fokus utama:
- BRI menyetujui aksi korporasi untuk membeli kembali saham sebagai strategi meningkatkan nilai pemegang saham dan memperkuat fundamental perusahaan.
- Hery Gunardi resmi ditunjuk sebagai Direktur Utama menggantikan Sunarso, menandai perubahan kepemimpinan di bank BUMN ini.
- Dengan laba bersih Rp60,64 triliun, BRI membagikan dividen Rp51,74 triliun kepada pemegang saham, mencerminkan kebijakan bagi hasil yang agresif.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mengambil langkah strategis dengan menyetujui pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp3 triliun. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Menara BRILiaN, Jakarta Selatan, Senin (24/3/2025).
“Buyback dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek, baik secara bertahap maupun sekaligus, dan diselesaikan paling lama 12 bulan setelah tanggal RUPST,” demikian pernyataan resmi BRI.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang BRI untuk meningkatkan nilai pemegang saham sekaligus memperkuat fundamental bisnis perusahaan. Buyback saham umumnya dilakukan oleh perusahaan untuk menunjukkan kepercayaan diri terhadap prospek bisnisnya dan menjaga stabilitas harga saham di pasar.
Di tengah volatilitas pasar saham, kebijakan ini diharapkan dapat menstabilkan harga saham BBRI serta meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham. Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, beberapa bank besar dunia seperti JPMorgan Chase dan HSBC juga menerapkan kebijakan serupa sebagai upaya menjaga valuasi saham mereka di tengah ketidakpastian global.
Selain menyetujui buyback saham, RUPST BRI juga menetapkan perubahan manajemen dengan mengangkat Hery Gunardi sebagai Direktur Utama yang baru menggantikan Sunarso.
Hery Gunardi sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dan dikenal sebagai sosok yang sukses membawa pertumbuhan signifikan di sektor perbankan syariah nasional. Pengalaman panjangnya di industri keuangan dinilai menjadi modal kuat untuk membawa BRI ke fase pertumbuhan berikutnya.
Perombakan manajemen ini dinilai strategis dalam menghadapi tantangan digitalisasi perbankan serta ekspansi bisnis BRI ke segmen mikro dan ultra-mikro yang terus berkembang pesat.
Keputusan penting lainnya dalam RUPST adalah pembagian dividen sebesar Rp51,74 triliun atau Rp343,40 per saham. Angka ini mencerminkan rasio dividen sebesar 85,32% dari laba bersih BRI tahun 2024 yang mencapai Rp60,64 triliun.
Sebelumnya, BRI telah membagikan dividen interim sebesar Rp135 per saham atau Rp20,33 triliun pada 15 Januari 2025. Dengan demikian, dividen final yang diterima pemegang saham tahun ini mencapai Rp208,40 per saham.
Rasio dividen sebesar 85,32% menunjukkan kebijakan bagi hasil yang agresif, sejalan dengan tren perbankan global yang semakin memperhatikan kepentingan pemegang saham. Sebagai perbandingan, Bank of America dan Citigroup di AS mencatat rasio dividen berkisar 75% hingga 80% pada periode yang sama.
Sisa laba bersih tahun 2024 akan dialokasikan sebagai saldo laba ditahan untuk mendukung ekspansi bisnis dan penguatan modal BRI ke depan.
Langkah buyback saham yang diambil BRI sejalan dengan strategi perbankan nasional yang semakin mengedepankan efisiensi dan optimalisasi nilai pemegang saham. Dengan kepemimpinan baru di bawah Hery Gunardi, bank pelat merah ini diproyeksikan akan lebih agresif dalam memperluas layanan digital dan menguatkan ekosistem keuangan mikro yang menjadi keunggulan kompetitifnya.
Ke depan, investor akan mencermati bagaimana implementasi buyback ini akan berdampak pada harga saham BBRI serta bagaimana kebijakan manajemen baru dalam menjaga profitabilitas dan pertumbuhan bisnis. ■