Hery Gunardi nahkodai BRI, ini susunan lengkap direksi dan komisaris baru

- 24 Maret 2025 - 19:36

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) resmi menunjuk Hery Gunardi sebagai Direktur Utama yang baru dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025, menggantikan Sunarso. Selain itu, susunan dewan komisaris dan direksi juga mengalami perubahan signifikan, termasuk pergantian nomenklatur beberapa posisi. Dalam RUPST tersebut, BRI juga mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp51,74 triliun, setara dengan 85,32% dari laba bersih tahun buku 2024 yang mencapai Rp60,64 triliun.


Fokus utama:

  1. Hery Gunardi diangkat sebagai Direktur Utama BRI setelah sukses memimpin Bank Syariah Indonesia (BSI).
  2. Pemegang saham BRI menerima dividen Rp51,74 triliun, dengan rasio pembayaran 85,32% dari laba bersih 2024.
  3. Susunan baru mencerminkan strategi BRI dalam menghadapi tantangan industri perbankan ke depan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) resmi mengangkat Hery Gunardi sebagai Direktur Utama yang baru, menggantikan Sunarso. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025, yang juga menetapkan sejumlah perubahan pada jajaran komisaris dan direksi perseroan.

Hery Gunardi sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) sejak 2021. Di bawah kepemimpinannya, BSI mencatat pertumbuhan signifikan dan semakin memperkuat posisinya sebagai bank syariah terbesar di Indonesia.

Selain pergantian pucuk pimpinan, BRI juga mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp51,74 triliun atau Rp343,40 per saham. Dengan laba bersih tahun buku 2024 yang mencapai Rp60,64 triliun, rasio pembayaran dividen BRI mencapai 85,32%, salah satu yang tertinggi di industri perbankan nasional. Sebelumnya, perseroan telah membagikan dividen interim sebesar Rp20,33 triliun (Rp135 per saham) pada 15 Januari 2025. Dengan demikian, dividen final yang diterima pemegang saham adalah Rp208,40 per saham.

Menurut laporan keuangan BRI, sisa laba bersih tahun 2024 akan dialokasikan sebagai saldo laba ditahan untuk memperkuat modal perseroan.

Perombakan Susunan Komisaris dan Direksi BRI

Dalam RUPST 2025, BRI juga mengumumkan perubahan susunan komisaris dan direksi, termasuk beberapa nama baru. Berikut daftar lengkapnya:

Dewan Komisaris:

  • Komisaris Utama: Kartika Wirjoatmodjo
  • Wakil Komisaris Utama / Komisaris Independen: Parman Nataatmadja*
  • Komisaris: Awan Nurmawan Nuh
  • Komisaris: Helvi Yuni Moraza*
  • Komisaris Independen: Edi Susianto*
  • Komisaris Independen: Lukmanul Khakim*

Direksi:

  • Direktur Utama: Hery Gunardi*
  • Wakil Direktur Utama: Agus Noorsanto*
  • Direktur Human Capital & Compliance: Ahmad Solichin Lutfiyanto
  • Direktur Operations: Hakim Putratama*
  • Direktur Corporate Banking: Riko Tasmaya*
  • Direktur Network dan Retail Funding: Aquarius Rudianto*
  • Direktur Treasury dan International Banking: Farida Thamrin*
  • Direktur Micro: Akhmad Purwakajaya*
  • Direktur Commercial Banking: Alexander Dippo Paris Y S*
  • Direktur Consumer Banking: Nancy Adistyasari*
  • Direktur Finance & Strategy: Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari
  • Direktur Manajemen Risiko: Mucharom*
  • Direktur Information Technology: Saladin Dharma Nugraha Effendi*

(*) Menunggu persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perubahan ini mencerminkan strategi BRI dalam menghadapi tantangan industri perbankan ke depan, termasuk akselerasi digitalisasi dan penguatan bisnis mikro serta UMKM.

Sebagai bank terbesar di Indonesia dari sisi aset dan laba, BRI menghadapi berbagai tantangan di tahun 2025, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, volatilitas nilai tukar rupiah, hingga persaingan di sektor perbankan digital.

Namun, dengan kepemimpinan baru dan strategi yang semakin fokus pada digitalisasi dan inklusi keuangan, BRI berpotensi memperkuat dominasinya di sektor UMKM serta meningkatkan efisiensi operasionalnya.

Laporan terbaru Bank Indonesia menunjukkan bahwa sektor perbankan nasional tetap solid, dengan pertumbuhan kredit yang diproyeksikan mencapai 10-12% di tahun 2025. BRI, dengan fokusnya pada segmen mikro, diperkirakan akan tetap menjadi salah satu pemain utama dalam mendorong pertumbuhan kredit di Indonesia. ■

Comments are closed.