Laba BNI tembus Rp21,46 triliun di 2024, kredit melonjak 11,62% meski beban bunga tinggi

- 22 Januari 2025 - 18:17

Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2024 dengan laba bersih Rp21,46 triliun, naik 2,64% dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit mencapai Rp775,87 triliun dengan perbaikan kualitas kredit. Transformasi digital dan kebijakan strategis turut mendorong pertumbuhan ini, meski beban bunga melonjak 29,24% yoy.


Poin utama:

  1. BNI mencetak laba bersih Rp21,46 triliun pada 2024, naik 2,64% yoy, didukung transformasi digital dan peningkatan efisiensi.
  2. Penyaluran kredit mencapai Rp775,87 triliun (11,62% yoy), dengan NPL gross turun menjadi 1,97%.
  3. BNI menargetkan pertumbuhan kredit korporasi dan konsumer masing-masing 8-10% tahun ini, berfokus pada sektor strategis seperti infrastruktur dan industri.

Optimisme mewarnai langkah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) di tengah dinamika ekonomi 2024. Bank pelat merah ini sukses mencatatkan laba bersih Rp21,46 triliun, naik 2,64% dibandingkan 2023, meski menghadapi lonjakan beban bunga sebesar 29,24%. Transformasi digital, pertumbuhan kredit, dan pengelolaan risiko menjadi pilar keberhasilan BNI tahun lalu.

BNI terus menunjukkan performa positif di tengah tantangan ekonomi. Pada 2024, bank ini membukukan laba bersih Rp21,46 triliun, meningkat dari Rp20,90 triliun pada 2023. Hal ini tercapai meski beban bunga melonjak tajam hingga 29,24% yoy menjadi Rp26,1 triliun, yang sedikit menggerus pendapatan bunga bersih menjadi Rp40,48 triliun (turun 1,92% yoy).

Penyaluran kredit menjadi sorotan, dengan total kredit yang disalurkan mencapai Rp775,87 triliun, tumbuh signifikan sebesar 11,62% yoy. Pertumbuhan ini didukung perbaikan kualitas kredit, tercermin dari NPL net yang turun menjadi 0,74% dan NPL gross sebesar 1,97%.

Transformasi digital BNI juga membuahkan hasil. Direktur Keuangan BNI, Novita Widya Anggraini, menegaskan bahwa peningkatan dana pihak ketiga (DPK), khususnya tabungan yang tumbuh 11,02% menjadi Rp257,54 triliun, menjadi bukti keberhasilan strategi digitalisasi.

“Peningkatan tabungan menunjukkan kepercayaan nasabah terhadap layanan digital kami, sejalan dengan visi BNI untuk menjadi bank digital terkemuka,” ujar Novita dalam paparan kinerja 2024.

Pendapatan non-bunga juga naik signifikan. Fee-based income tercatat tumbuh 1,27% yoy menjadi Rp10,25 triliun, sementara pendapatan lainnya melonjak 20,86% yoy menjadi Rp7,36 triliun.

Target 2025: Kredit Tumbuh Hingga 10%
Melihat prospek 2025, BNI optimistis menargetkan pertumbuhan kredit korporasi dan konsumer masing-masing sebesar 8-10%. Fokus utama adalah sektor komunikasi, infrastruktur, dan perindustrian yang sejalan dengan program hilirisasi pemerintah.

“Kredit konsumer akan didorong melalui produk payroll dan mortgage, meski tantangan seperti kenaikan PPN menjadi 12% tetap kami antisipasi dengan strategi diferensiasi produk,” kata Novita.

Kebijakan devisa ekspor

BNI juga menyambut positif kebijakan baru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan eksportir menempatkan 100% DHE di Indonesia selama satu tahun. Kebijakan ini diyakini akan meningkatkan likuiditas perbankan secara signifikan.

“Kami optimis aturan baru DHE dapat memperkuat cadangan devisa dan menambah dana murah di perbankan. Saat ini, DHE di BNI mencapai US$1,3 miliar atau 13% dari total deposito valas,” ujar Novita.

Selain itu, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,75% juga diproyeksikan memperbaiki kondisi likuiditas di semester kedua 2025.

Dengan total aset yang tumbuh 3,95% yoy menjadi Rp1.124,80 triliun, BNI terus berkomitmen untuk menjaga momentum pertumbuhan dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia.

Kinerja BNI sepanjang 2024 mencerminkan keberhasilan transformasi digital dan pengelolaan risiko. Meski menghadapi tantangan seperti lonjakan beban bunga dan kenaikan pajak, strategi yang matang membuat BNI optimis menghadapi 2025 dengan target pertumbuhan kredit yang ambisius. ■

Comments are closed.