Survei Consensys: “Ada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap mata uang kripto”

- 11 Desember 2024 - 12:23

Indonesia sedang berada di persimpangan revolusi keuangan. Di satu sisi, survei terbaru Consensys menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap mata uang kripto, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terdepan di Asia. Namun, di sisi lain, kepercayaan terhadap institusi keuangan tradisional terus merosot, memberikan ruang bagi teknologi blockchain dan desentralisasi untuk menawarkan solusi alternatif. Dengan keamanan dan pendidikan sebagai dua perhatian utama, bagaimana masa depan kripto di Indonesia berkembang di tengah transisi ini?


Sebuah survei komprehensif yang dirilis oleh Consensys, perusahaan blockchain terkemuka di balik MetaMask, menampilkan gambaran menarik tentang sikap masyarakat Indonesia terhadap mata uang kripto dan teknologi blockchain.

Survei ini, yang melibatkan 1.041 responden di Indonesia, menegaskan bahwa kesadaran terhadap kripto meningkat sebesar 4% dibandingkan tahun lalu, menjadikan Indonesia bersama Korea Selatan sebagai negara dengan tingkat kesadaran tertinggi kedua di Asia setelah Turki.

Namun, tingginya kesadaran ini belum diimbangi dengan pemahaman mendalam. Sebanyak 63% responden mengakui masih kesulitan memahami teknologi kripto sepenuhnya, menandakan perlunya langkah strategis dalam edukasi yang lebih mudah diakses dan praktis.

Keamanan tetap menjadi perhatian utama bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Meskipun ada sedikit penurunan sebesar 3% dibandingkan tahun lalu, 89% responden tetap sangat peduli terhadap keamanan dalam bertransaksi dan berinvestasi menggunakan mata uang kripto. Hal ini mempertegas pentingnya pengembangan sistem yang dapat menjamin perlindungan pengguna.

Penurunan paling tajam terlihat dalam kepercayaan terhadap institusi keuangan tradisional. Dari survei ini, hanya 66% responden yang masih memandang pentingnya peran institusi seperti bank dan layanan investasi, turun 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Pergeseran ini membuka peluang bagi sistem desentralisasi untuk mengambil alih perhatian publik, asalkan mampu mengatasi kekhawatiran seputar keamanan dan regulasi.

NFT dan Blockchain: Lebih dari Sekadar Aset Seni

Selain kripto, persepsi masyarakat terhadap NFT juga mulai bergeser. Jika sebelumnya NFT sering dikaitkan dengan seni digital, kini masyarakat Indonesia mulai melihat teknologi ini sebagai bagian dari ekosistem blockchain yang dapat mendukung inklusivitas keuangan. Ini menjadi sinyal positif bahwa blockchain memiliki potensi lebih besar dari sekadar aset kreatif.

Joseph Lubin, Co-Founder Ethereum dan CEO Consensys, menekankan pentingnya transparansi dan privasi data dalam teknologi desentralisasi. “Dengan 83% responden secara global menekankan pentingnya privasi data, blockchain memiliki peran besar dalam meningkatkan kepercayaan publik. Tahun 2024 menjadi momentum besar bagi kripto dan teknologi desentralisasi untuk membuktikan kemampuannya menjawab tantangan global,” ujar Lubin, Rabu (11/12).

Survei ini juga menjelaskan bahwa tantangan utama dalam adopsi kripto di Indonesia adalah pendidikan dan aksesibilitas. Dengan mayoritas masyarakat masih belum memahami kripto secara mendalam, investasi dalam edukasi menjadi kunci untuk memperluas penetrasi teknologi blockchain.

Di tengah menurunnya kepercayaan terhadap institusi keuangan tradisional, mata uang kripto dan blockchain menawarkan peluang besar untuk mengisi kekosongan tersebut. Namun, agar bisa benar-benar diadopsi secara luas, fokus pada pendidikan, keamanan, dan regulasi tetap menjadi prioritas. Jika tantangan ini bisa diatasi, masa depan kripto di Indonesia terlihat menjanjikan.


Comments are closed.