Bank, multifinance dan fintech harus waspada, rasio kredit macet bisnis paylater trennya terus meningkat

- 26 Oktober 2022 - 21:13

Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) semakin diminati masyarakat, terutama kalangan muda. Berbagai kemudahan dan kecepatan yang dihadirkan membuat pengguna layanan ini terus meningkat. Bahkan satu riset mengungkapkan konsumen terutama kalangan muda semakin meminati paylater sebagai metode pembayaran.

digitalbank.id – Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) semakin diminati masyarakat, terutama kalangan muda. Berbagai kemudahan dan kecepatan yang dihadirkan membuat pengguna layanan ini terus meningkat. Bahkan satu riset mengungkapkan konsumen terutama kalangan muda semakin meminati paylater sebagai metode pembayaran saat berbelanja.

PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) belum lama ini mengungkapkan, produk paylater telah memproses 78 juta pinjaman selama periode Januari-Juli 2022 dengan jumlah pinjaman mencapai Rp3,1 triliun dari 9,44 juta pengguna. Namun, sayangnya, peningkatan itu dibarengi dengan peningkatan rasio kredit macet (NPL) layanan paylater.

Pada Juli 2022 tercatat NPL paylater mencapai 6,49% atau tertinggi dibandingkan produk – produk sejenis. Misalnya, NPL KKB motor dan KPR masing-masing hanya 3,30%. Sementara NPL KKB mobil, kartu kredit dan KTA di kisaran 2%. Peningkatan NPL paylater di atas 6% sudah mulai terasa sejak Maret 2022 lalu. Bahkan rasio kredit masalah layanan pinjaman ini pernah mencapai posisi tertinggi sebesar 7% pada Juni 2022.

Direktur Utama IdScore Yohanes Arts Abimanyu mengatakan penyebab kenaikan NPL karena karakteristik paylater yang menyediakan pinjaman dengan nominal kecil. Sehingga penyelenggara mengabaikan proses verifikasi pinjaman. “Tanpa adanya verifikasi kredit sebelumnya untuk peminjam, membuat orang dengan mudah mendapatkan pinjaman dari berbagai platform paylater tanpa khawatir untuk ditolak,” katanya di Jakarta pekan ini.

Menurut dia, ada kecenderungan peminjam paylater jadi mudah terlena sehingga lupa ataupun enggan membayar kewajibannya. Bahkan pengguna mengambil kesempatan untuk mengambil pinjaman dari platform lain. Bahkan dia memperkirakan tren kenaikan NPL paylater akan berlanjut sampai akhir tahun jika penyelenggara mengabaikan proses verifikasi melalui mitigasi risiko sejak awal pengajuan pinjaman.

“Apalagi ke depan kondisi ekonomi juga berpotensi mengalami gejolak dan bisa berdampak terhadap debitur paylater.”

 

Melihat tren penigkatan NPL dalam bisnis paylater, dia meminta perbankan, multifinance, fintech hingga e-commerce yang menyalurkan kredit melalui paylater agar mengelola risiko NPL secara lebih hati-hati.

Dia juga meminta penyelenggara paylater untuk memperkuat mitigasi risiko sebelum menerima pengajuan kredit. Kemudian menyeleksi calon debitur melalui credit scoring dan analis 5 C meliputi character, capacity, capital, collateral dan condition.

Terlepas dari kenaikan NPL paylater yang mengkhawatirkan, dia memperkirakan bisnis paylater akan terus tumbuh karena tingkat konsumsi masyarakat juga meningkat. Hal ini dibarengi kondisi ekonomi mulai yang pulih pasca pandemi Covid-19. (HAN)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.